Edisi contoh: bagian depan buku, Bab 1–3, dan Daftar Kata. Dapatkan buku lengkap
Buku Pertama dari Tiga
2026
Buku Pertama dari Tiga
Eramuse
Untuk segala umur — dibacakan untuk anak 8 tahun ke atas, dan bisa dibaca sendiri oleh anak 10 tahun ke atas
Eramuse House
Satu Napas
Buku Pertama dari Tiga
Penulis: Eramuse
Penerbit: Eramuse House
Cetakan pertama, 2026
Hak cipta © 2026 Eramuse
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak, menyalin, atau menyebarluaskan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari pemegang hak cipta, kecuali untuk kutipan singkat dalam ulasan atau keperluan pendidikan dengan menyebutkan sumbernya.
Guru dan sekolah boleh memperbanyak halaman Yang Nyata di Bab Ini, Untuk dipikirkan, puisi pembuka, dan pantun penutup untuk keperluan mengajar di kelas, tanpa perlu meminta izin.
Pernyataan fiksi. Buku ini karya fiksi. Kampung Pari dan seluruh tokoh di dalamnya adalah rekaan. Tidak ada tokoh dalam buku ini yang dimaksudkan menggambarkan orang sungguhan, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Kemiripan semacam itu, kalau ada, adalah kebetulan semata. Sebagian tempat, lembaga, dan penemuan ilmiah yang disebut di sini memang nyata, dan dijelaskan satu per satu di bagian belakang buku.
Keaslian dan koreksi. Cerita, tokoh, dan seluruh gagasan dalam buku ini disusun oleh penulis, dengan bantuan kecerdasan buatan sebagaimana dijelaskan di halaman berikutnya. Kalau ada keterangan yang keliru, atau ada sumber yang seharusnya kami sebut tetapi terlewat, tolong beri tahu kami. Akan kami perbaiki pada cetakan berikutnya.
ayomath.com · eramusehouse@gmail.com
Buku ini ditulis oleh manusia, dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Idenya bukan dari mesin. Kampung di atas laut, Pari, Udin, Mbo, si pengetuk, dan seluruh jalan ceritanya dipilih dan diputuskan oleh manusia. Yang dibantu mesin adalah menyusun kalimat, memeriksa angka dan fakta ilmiah, dan menemukan bagian yang keliru. Dulu pekerjaan itu dikerjakan penyunting. Sekarang dikerjakan bersama.
Rasanya pantas disebutkan. Sebab di dalam buku ini ada komputer yang sangat yakin, padahal salah. Karena itu, semua yang dibantu mesin kami periksa ulang. Dan kami tetap bertanya kepada manusia: kepada guru, kepada ilmuwan, dan kepada orang-orang yang tinggal di dekat laut.
Ilmu pengetahuan terus berubah. Kalau suatu hari kamu menemukan fakta yang lebih baru, itu artinya kamu sudah mulai berpikir seperti ilmuwan.
Pari dan teman-temannya tumbuh di atas laut. Mereka belajar menyelam sejak kecil, dengan orang tua yang selalu mengawasi. Tapi menyelam bisa sangat berbahaya, bahkan bagi penyelam yang hebat.
Karena itu, tolong ingat hal-hal ini:
Kata-kata yang mungkin baru buat kamu ada di Daftar Kata, di bagian belakang buku.
Laut itu indah, tapi besar sekali. Menyelamlah dengan hormat, dan selalu pulang dengan selamat.
Buku ini bisa dibacakan untuk anak 8 tahun ke atas, dan dibaca sendiri oleh anak 10 tahun ke atas. Kalimatnya pendek. Yang membuatnya menantang adalah ceritanya yang panjang dan ilmunya yang banyak. Karena itu, buku ini paling seru kalau dibaca bersama.
Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tahun 2031.
“Satu… dua… tiga!”
Pari dan Udin melompat dari perahu kecil bersamaan. Air hijau yang bening menelan mereka.
Udin sahabat Pari. Rumahnya hanya tiga rumah dari rumah Pari. Mereka sudah berenang bersama sejak belum bisa berjalan.
Lombanya sederhana. Siapa yang pertama menyentuh pasir di dasar lalu kembali ke atas, dia menang. Yang kalah harus mendayung pulang.
Udin menendang sekuat tenaga. Gelembung meledak di sekelilingnya seperti air mendidih. Pari tidak. Pari meluncur rendah dan pelan, seperti ikan pari yang pipih itu. Karena itulah anak-anak kampung memanggilnya Pari. Nama aslinya Sarina.
Tangannya menyentuh pasir lebih dulu. Ia menggenggam segenggam, lalu naik.
“Curang!” teriak Udin begitu kepalanya muncul.
Pari membuka genggamannya. Pasir putih mengalir di sela jarinya. “Kamu kebanyakan gelembung.”
“Gelembung bukan curang!”
“Gelembung itu napas yang dibuang.”
Udin mengomel sambil mengambil dayung. Kalah tetap kalah.
Sebelum naik ke perahu, Pari memasukkan kepalanya sekali lagi ke air. Ia selalu begitu. Mendengarkan.
Derik udang, seperti minyak panas di wajan. Bunyi karang yang ia kenal sejak kecil.
Tapi akhir-akhir ini deriknya lebih pelan. Dulu seperti hujan deras di atap seng. Sekarang seperti gerimis. Pari tidak tahu kenapa. Ia juga tidak pernah bilang kepada siapa-siapa.
Dari perahu itu, kampung mereka seperti hutan tiang. Rumah-rumah kayu berdiri di atas laut. Jembatan papan menyambung satu rumah dengan rumah lain. Orang-orang di sana menyebut diri mereka orang Sama. Orang dari darat menyebut mereka orang Bajo. Hampir semua anaknya bisa menyelam sebelum bisa membaca.
Di ujung teras salah satu rumah, seorang nenek duduk memandang laut. Itu Mbo, nenek Pari.
Jauh di luar karang ada kapal putih. Sudah seminggu kapal itu di sana. Kata Pak Ramli, isinya orang pintar dari Jakarta dan orang asing.
Sore itu sebuah perahu karet abu-abu dari kapal putih berhenti di tepi karang. Jaraknya hanya sepelempar batu dari perahu kecil Pari dan Udin. Di atasnya ada tiga orang. Seorang perempuan bertopi lebar. Seorang laki-laki jangkung berkacamata. Dan seorang pemuda yang sedang menurunkan benda kuning dengan tali.
Lalu simpul talinya lepas.
Plung.
Perempuan bertopi itu berteriak. Benda kuning itu tenggelam, berputar pelan menyusuri dinding karang.
Udin sudah mendayung sebelum disuruh. Dalam beberapa kayuhan, perahu kecil mereka sudah bersebelahan dengan perahu karet itu. Begitu dekat sampai Pari bisa mendengar perempuan bertopi itu terengah-engah.
Pari melongok ke dalam air. Di bawah sana ada tonjolan batu seperti rak. Benda kuning itu tersangkut di situ, bergoyang kena arus. Di bawah rak itu hanya ada biru tua. Makin dalam makin gelap. Lalu hitam.
“Aduh,” kata perempuan bertopi. “Kalau jatuh lagi, hilang sudah. Di bawah situ dalamnya ribuan meter.”
“Penyelam kita masih di kapal,” kata laki-laki berkacamata. “Setengah jam lagi baru siap.”
“Arusnya tidak akan menunggu.”
Pari mengukur dengan mata, seperti yang diajarkan Bapak. Warna airnya. Kecilnya karang di sekitar benda itu.
“Dua belas meter,” katanya.
Ketiga orang itu menoleh. Seperti baru sadar ada dua anak di situ.
Pari menoleh ke Udin. “Kamu jaga.”
Udin langsung mengerti. Itu aturan Bapak Pari. Satu turun, satu jaga. Tidak pernah dua-duanya. Tidak pernah sendirian.
“Jangan!” kata perempuan bertopi. Lalu ia melihat wajah Pari, dan cepat-cepat melempar gulungan tali ke air. Di ujungnya ada pengait logam. “Jangan diangkat. Berat. Kaitkan saja, lalu tarik dua kali. Kami yang menarik.”
Pari menangkap pengait itu. Ia menarik napas.
Ia turun kepala lebih dulu. Dua tendangan, lalu tubuhnya tenggelam pelan menyusuri dinding karang.
Di lima meter, telinganya terasa ditekan. Seperti ada jari yang mendorong dari luar. Ia memencet hidung dan meniup pelan. Plop. Tekanannya hilang.
Di delapan meter, air lebih dingin. Warna karang memucat. Semuanya kebiruan. Telinganya ditekan lagi. Plop.
Lalu ia mendengarnya.
Tik. Tik. Tik-tik-tik-tik.
Si pengetuk.
Pari sudah mendengar bunyi itu sejak kecil. Setiap senja, dari anak tangga rumahnya. Tipis dan tinggi, seperti kuku diketuk ke kaca, jauh di tempat yang biru tua. Tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Untuk apa? Semua orang pasti dengar. Tidak ada yang bercerita tentang angin.
Tapi di sini bunyinya lebih jelas dari biasanya. Lebih dekat.
Tik-tik-tik-tik-tik. Zzzt.
Tangannya menyentuh batu. Ia mengaitkan pengait ke gagang benda kuning itu. Klik. Lalu ia menarik tali dua kali.
Sebentar saja ia menoleh ke bawah. Biru tua. Lalu hitam. Tidak ada dasar.
Dadanya mulai penuh. Ia menendang ke atas.
Air makin terang. Makin hangat. Di atas sana ada bayangan perahu, dan wajah Udin yang menempel di permukaan air tanpa berkedip.
Pari muncul. Udara masuk seperti air dingin ke tenggorokan. Di sebelahnya, benda kuning itu ikut naik ditarik tali. Benda itu berputar-putar seperti ikan yang tertangkap.
Perempuan bertopi itu mengangkat benda kuning ke perahu dengan dua tangan. Ia menekan tombol. Di layar kecilnya muncul angka.
“Dua belas koma empat meter,” bacanya pelan.
Laki-laki berkacamata menatap Pari. “Umurmu berapa?”
“Sebelas.”
Kedua orang dewasa itu saling pandang lama.
“Saya Wulan,” kata perempuan itu. Ia tersenyum. Hidungnya terkelupas terbakar matahari. “Ini alat perekam bunyi. Selama di bawah tadi, dia terus merekam. Semua yang ada di bawah sana, dia dengar.”
Semua. Berarti juga si pengetuk. Entah kenapa, Pari senang sekali.
“Rumahmu yang mana?” tanya laki-laki berkacamata. “Besok, boleh kami bicara dengan orang tuamu?”
Malamnya, waktu membersihkan ikan, Pari menemukan benang biru di perut seekor ikan kakap. Tipis, sepanjang kelingking. Ia menjentikkannya ke sela lantai. Benang itu jatuh ke laut tanpa bunyi.
Ia tidak memikirkannya. Kepalanya penuh hal lain.
Dua belas koma empat meter. Jurang yang tidak ada dasarnya. Si pengetuk, dekat sekali.
Dan besok, orang-orang dari kapal putih akan datang ke rumahnya.
Yang Nyata di Bab Ini
Untuk dipikirkan: Udin juga pandai menyelam. Kenapa Pari menyuruhnya berjaga di atas?
Pari menyelamatkan alat perekam dari tepi jurang. Hari ini orang-orang kapal putih datang ke rumahnya.
Mama bangun sebelum subuh dan menyapu rumah dua kali.
“Ma, mereka cuma mau bicara.”
“Orang dari kapal besar mau datang,” kata Mama. Ia menyapu bagian yang sudah bersih. “Masa lantainya kotor.”
Bapak menjahit jaring di sudut. Ia pura-pura tidak peduli, padahal sudah memakai kemeja Jumat. Kaki kanan Bapak kaku, dan ia berjalan sedikit pincang. Dulu ia penyelam. Sekarang ia memperbaiki jaring orang dan membantu Mama di pasar. Kak Rusdi duduk di pintu dengan rambut disisir basah. Udin datang paling pagi. Tidak ada yang mengundangnya. Katanya, ia saksi.
Hanya Mbo yang tidak berubah. Ia duduk di ujung teras seperti biasa.
Perahu karet abu-abu merapat ke tangga rumah. Bu Wulan naik lebih dulu. Di belakangnya, laki-laki berkacamata itu membungkuk supaya kepalanya tidak terantuk atap.
Ia berdiri di tengah ruangan. Lalu ia mengucapkan salam dalam bahasa Sama.
Seisi rumah terdiam.
Logatnya aneh. Tapi itu bahasa mereka. Ia terus bicara, dan di tengah kalimatnya ada satu kata yang membuat Kak Rusdi menutup mulut. Udin berguling di lantai sambil tertawa.
Laki-laki itu berhenti. “Salah, ya?”
“Bapak bilang terima kasih kepada ikan,” kata Pari.
Semua orang tertawa. Bahkan Mama. Laki-laki itu tertawa paling keras.
“Nama saya Rafael. Dari Universitas Filipina,” katanya. “Di sana juga ada orang Sama. Saya belajar bahasa dari mereka. Ternyata nama ikan di sana dan di sini beda.”
Mereka duduk di tikar. Dalam lima menit, kaki Bu Wulan sudah kesemutan. Dr. Rafael duduk bersila seperti orang kampung.
“Saya meneliti bunyi di laut,” kata Bu Wulan. “Kami menaruh alat perekam di banyak tempat. Kadang talinya putus. Kadang arusnya kuat.” Ia melirik Pari. “Kami butuh orang yang kenal karang di sini. Yang bisa menyelam kalau perlu. Dibayar, tentu.”
Mama langsung duduk tegak. “Anak saya baru sebelas tahun.” Ia menatap Pari tajam. “Dan kemarin dia turun dua belas meter. Di tepi jurang. Tidak ada orang dewasa di dalam air. Cuma Udin yang jaga.”
Pari menunduk. Udin, di pojok, pura-pura sibuk dengan kakinya.
“Ibu benar,” kata Bu Wulan. Wajahnya serius. “Itu salah kami juga. Kami seharusnya melarang, bukan melempar tali. Kami terlalu takut kehilangan alat.” Ia menatap Pari. “Alat bisa dibeli lagi. Kamu tidak.”
Ruangan jadi sunyi.
“Mulai sekarang,” kata Bu Wulan, “tidak pernah seperti kemarin. Selalu ada orang dewasa di dalam air. Selalu dengan tali. Dan anak-anak tidak boleh lebih dari lima meter.”
Mama memandanginya lama. Lalu mengangguk sekali. Seperti Mbo.
Lalu Dr. Rafael. “Saya meneliti tubuh. Bagaimana orang Sama bisa menyelam begitu lama. Kami mau mengukur banyak orang di kampung ini. Jantung, napas, telinga.” Ia menatap Pari. “Kemarin kamu turun dua belas meter. Saya mau tahu bagaimana tubuhmu melakukannya.”
Pari merasa wajahnya panas. Belum pernah ada orang dewasa yang ingin tahu hal seperti itu tentang dirinya.
Bu Wulan mencondongkan badan. “Satu hal lagi. Kemarin kamu bilang dua belas meter, sebelum menyelam. Hampir tepat. Bagaimana kamu tahu?”
Pari berpikir. Tidak ada yang pernah menanyakan itu. Ia tahu saja.
“Dari warnanya,” katanya akhirnya. “Makin dalam, makin biru. Karang merah jadi cokelat, lalu jadi hitam. Di dua belas meter, bunga karang yang merah kelihatan hitam.”
Bu Wulan menatapnya. Lalu menatap Dr. Rafael.
“Warna merah hilang paling dulu di dalam air,” kata Bu Wulan pelan. “Ilmuwan butuh alat untuk mengukurnya. Kamu pakai mata.”
“Bapak yang ajari,” kata Pari.
Di sudut ruangan, Bapak pura-pura sibuk dengan jaringnya. Tapi jarumnya berhenti bergerak.
Surat izinnya enam halaman. Mama membaca semuanya, satu jam penuh, dengan kacamata yang biasa dipakai menghitung uang. Udin sampai tertidur.
Akhirnya Mama menutup surat itu. “Boleh berhenti kapan saja. Dibayar untuk hari yang sudah diikuti. Adil.” Lalu ia tanda tangan.
Pari juga dapat kertas sendiri, satu halaman, penuh gambar. Di bawahnya tertulis tebal: Kamu boleh bilang tidak. Pari tidak bilang tidak. Ia menulis nama aslinya pelan-pelan: Sarina.
Dr. Rafael menempelkan stiker di kartunya. P-27.
Udin terbangun. “Aku juga!” Ia dapat P-28 dan langsung memamerkannya seperti lencana polisi.
Sebelum pulang, Dr. Rafael berhenti di ujung teras. Ia menyapa Mbo dalam bahasa Sama, pelan dan hormat. Kali ini tidak ada ikan yang disebut. Ia bertanya apakah Mbo mau ikut diukur.
Mbo memandanginya lama. Dari sepatunya yang basah sampai kacamatanya yang berembun.
“Tidak,” kata Mbo.
Dr. Rafael mengangguk sopan.
“Mbo sudah diukur laut tujuh puluh tahun,” tambah Mbo. “Laut saja belum selesai. Masa kamu mau selesai dalam seminggu?”
Dr. Rafael tertawa. Mbo tidak. Tapi sudut bibirnya bergerak sedikit.
Waktu perahu karet mulai menjauh, Bu Wulan menoleh dan berteriak.
“Pari! Rekaman dari alat kemarin!”
“Kenapa?”
“Ada bunyi aneh! Tinggi sekali! Saya belum tahu itu apa!”
Perahu itu menjauh, meninggalkan garis putih di air.
Pari berdiri di ujung teras. Jantungnya berdebar. Bunyi aneh. Tinggi sekali.
Di sebelahnya, Udin menarik-narik lengannya. “Besok semua orang diukur. Kayak lomba!” Matanya bersinar. “Kali ini aku yang menang.”
Yang Nyata di Bab Ini
Untuk dipikirkan: Kalau kamu ilmuwan dan boleh mengukur satu hal tentang orang-orang di kampungmu, apa yang akan kamu ukur?
Orang-orang kapal putih akan mengukur seluruh kampung. Kata Udin, kayak lomba.
“Ini bukan lomba,” kata Dr. Rafael.
Ia mengatakannya tiga kali pagi itu. Terakhir waktu melihat Bu Hasnah menulis besar-besar di papan tulis yang digotong ke halaman sekolah:
HARI LOMBA
Di bawahnya ada tiga kolom. BASKOM. LIMPA. NAPAS.
“Bu Hasnah, ini penelitian.”
“Iya, Pak.” Bu Hasnah tidak menghapus apa-apa. “Tapi anak-anak lebih semangat kalau lomba.”
Dr. Rafael memandangi halaman. Empat puluh anak berbaris. Ibu-ibu membawa termos teh. Pak Ramli membawa kursi lipat. Seseorang membawa gendang.
“Baiklah,” kata Dr. Rafael. “Lomba.”
Anak-anak bersorak.
Pos pertama adalah baskom biru berisi air dan es dari kapal putih. Es! Anak-anak berebut memegangnya sampai jari mereka merah.
Setiap anak dijepit alat kecil di jarinya. Di layar muncul angka yang berkedip. Kata Dr. Rafael, itu detak jantung dalam satu menit.
Aturannya: tarik napas, lalu masukkan wajah ke air dingin.
Udin pertama. Sembilan puluh dua. Ia membenamkan wajahnya, dan dua detik kemudian mengangkatnya sambil menjerit.
“Dingin!”
Seisi halaman tertawa. Gendang dipukul.
Percobaan kedua, Udin bertahan. Semua mata menatap layar.
Sembilan puluh. Delapan puluh tujuh. Delapan puluh tiga. Delapan puluh.
Udin mengangkat kepala, basah dan terengah. “Jantungku pelan? Padahal aku kaget!”
Pari menatap layar itu lama. Kalau kaget, jantung harusnya cepat. Waktu Kak Rusdi mengagetkannya dari balik pintu, jantungnya berdebar-debar. Tapi air dingin di wajah justru membuat jantung pelan.
“Pak,” katanya. “Air dingin menyuruh jantung supaya hemat?”
Dr. Rafael memandanginya dengan alis terangkat. “Kamu baru saja menjelaskan sesuatu yang saya pelajari bertahun-tahun.”
Ia menggambar ikan paus di papan tulis. Gambarnya jelek sekali.
“Kayak terong,” kata Udin.
“Paus yang mirip terong,” kata Dr. Rafael. “Kalau paus menyelam, jantungnya juga melambat. Anjing laut juga. Kalian juga. Tubuh tahu kita masuk air. Oksigen harus dihemat. Darah dikumpulkan untuk otak dan jantung.”
Lalu giliran Pari. Delapan puluh delapan. Ia membenamkan wajahnya pelan. Ia membiarkan dinginnya masuk seperti di dasar karang.
Dug. … Dug. … Dug.
Enam puluh empat.
Bu Hasnah menulis angka itu di papan. Dr. Rafael menulis di tabletnya lama sekali.
Pos kedua ada di dalam kelas. Antreannya paling panjang.
Dr. Rafael mengoleskan cairan dingin ke perut setiap orang. Licin, seperti ingus raksasa. Setiap anak menjerit iiih dengan cara yang berbeda. Lalu ia menempelkan alat seperti sabun batangan. Di layar muncul gambar abu-abu, bergerak seperti awan badai.
“Mesin ini melihat pakai bunyi,” katanya. “Bunyinya masuk ke tubuh, menabrak sesuatu, lalu memantul. Seperti teriak di gua.”
Waktu giliran Pari, ia memasang telinga baik-baik. “Aku tidak dengar bunyinya.”
“Tidak ada yang bisa. Terlalu tinggi,” kata Dr. Rafael. “Bahkan untukmu.”
“Kenapa bahkan aku?”
Dr. Rafael berhenti, seperti orang yang salah bicara. “Maksudnya untuk anak-anak,” katanya cepat. “Berikutnya!”
Pos ini punya dua kejutan. Pertama, Pak Ramli tertidur waktu diukur. Dengkurannya terdengar sampai ke halaman. Kedua, Mama. Mama bukan penyelam, tapi limpanya juga besar.
“Sudah dari lahir,” kata Dr. Rafael. “Diturunkan dari nenek moyang.”
Mama menyentuh perutnya pelan. “Dari nenek,” katanya.
Pos ketiga di ujung dermaga. Setiap anak berbaring di permukaan air, wajah di dalam, memegang tali. Dr. Rafael berdiri di sebelahnya. Satu tangannya selalu di punggung si anak.
“Satu turun, satu jaga,” kata Udin bangga. “Aturan bapaknya Pari.”
“Bapaknya Pari orang pintar,” kata Dr. Rafael.
Udin bertahan satu menit sebelas detik. Anak-anak lain satu menit, atau kurang. Lalu Pari. Di tengah menahan napas, ia mendengar sesuatu yang aneh.
Tik. Tik-tik.
Si pengetuk. Di siang hari. Padahal biasanya ia hanya datang waktu senja. Bunyinya terputus-putus dan cepat, seperti orang yang tergesa-gesa.
Kenapa siang-siang? Pari hampir mengangkat kepala untuk bertanya. Lalu ia ingat, semua orang pasti juga dengar. Jadi ia diam saja.
Satu menit empat puluh. Lalu tangan Dr. Rafael menekan punggungnya dua kali, dan Pari naik, walaupun masih bisa lebih lama.
Sore itu Bu Hasnah membacakan hasilnya seperti mengumumkan juara tujuh belasan.
“Jantung paling pelan: Pari! Napas paling lama: Pari!”
Udin cemberut.
“Dan limpa…” Bu Hasnah memeriksa catatan. Alisnya naik. “Limpa paling besar di antara anak-anak: Udin!”
Halaman meledak. Udin melompat-lompat di dermaga. Ia tidak tahu apa artinya menang limpa. Tapi ia pemenang.
“Ini bukan lomba,” kata Dr. Rafael untuk keempat kalinya. Tidak ada yang mendengarkan. Ia sendiri tersenyum.
Mbo menonton dari ujung dermaga, di kursi yang dibawakan Kak Rusdi. Mbo tidak ikut diukur. Tapi Mbo mengomentari setiap anak seperti komentator sepak bola. Waktu Pari naik dari tali, Mbo hanya mengangguk sekali.
Bagi Pari, itu lebih berharga dari gendang seisi kampung.
Tapi waktu Bu Hasnah mengumumkan limpa Udin, Mbo mendengus keras.
“Punya Mbo pasti lebih besar,” katanya.
“Mbo kan tidak mau diukur,” kata Udin.
“Makanya,” kata Mbo, “tidak ada yang bisa membantah.”
Waktu orang-orang pulang, Dr. Rafael memanggil Pari.
“Besok, pos terakhir. Telinga.”
“Lomba juga?”
“Bukan lomba,” katanya. Lalu ia berhenti sebentar. “Tapi saya penasaran sekali siapa pemenangnya.”
Yang Nyata di Bab Ini
Untuk dipikirkan: Coba refleks menyelam di rumah dengan baskom air dingin, ditemani orang dewasa. Hitung detak jantungmu sebelum dan sesudah. Apakah jantungmu melambat juga?
Ini akhir dari tiga bab pertama.
Cerita Pari masih panjang: masih ada 21 bab lagi.
Orang tua dan guru bisa mendapatkan buku lengkapnya (EPUB) di grup Eramuse House di Skeddo. Saat ini tanpa biaya.
Kata-kata yang mungkin baru buat kamu.