← Tamu di Aikbatu
Sampul

TAMU DI AIKBATU

Buku Pertama dari Tiga

Eramuse

Untuk segala umur — dibacakan untuk anak 8 tahun ke atas, dan bisa dibaca sendiri oleh anak 10 tahun ke atas

• • •

Hak Cipta

Tamu di Aikbatu

Buku Pertama dari Tiga

Penulis: Eramuse

Penerbit: Eramuse House

Cetakan pertama, 2026

Hak cipta © 2026 Eramuse

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak, menyalin, atau menyebarluaskan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari pemegang hak cipta, kecuali untuk kutipan singkat dalam ulasan atau keperluan pendidikan dengan menyebutkan sumbernya.

Guru dan sekolah boleh memperbanyak halaman Yang Nyata di Bab Ini dan Untuk dipikirkan untuk keperluan mengajar di kelas, tanpa perlu meminta izin.

Pernyataan fiksi. Buku ini karya fiksi. Desa Aikbatu dan seluruh tokoh di dalamnya adalah rekaan. Tidak ada tokoh dalam buku ini yang dimaksudkan menggambarkan orang sungguhan, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal; kemiripan semacam itu, kalau ada, adalah kebetulan semata. Sebagian tempat, lembaga, dan penemuan ilmiah yang disebut di sini memang nyata, dan dijelaskan satu per satu di bagian belakang buku.

Keaslian dan koreksi. Cerita, tokoh, dan seluruh gagasan dalam buku ini disusun sendiri oleh penulis, dengan bantuan kecerdasan buatan sebagaimana dijelaskan di halaman berikutnya. Kalau ada keterangan yang keliru, atau ada sumber yang seharusnya kami sebut tetapi terlewat, tolong beri tahu kami. Akan kami perbaiki pada cetakan berikutnya.

ayomath.com · eramusehouse@gmail.com

• • •

Beberapa Kata dari Lombok

Dalam cerita ini ada beberapa kata bahasa Sasak, bahasa orang Lombok. Artinya begini:

KataArtinya
Inaqibu
Amaqayah
Papuqkakek atau nenek
Aikair
Rowotgugus bintang Pleiades

Amaq juga dipakai untuk memanggil laki-laki dewasa yang sudah punya anak. Jadi "Amaq Ripin" artinya kira-kira "Pak Ripin".

• • •

Catatan Kecil

Buku ini ditulis dengan bantuan kecerdasan buatan.

Idenya bukan dari mesin. Desa Aikbatu, Jabrik, Lela, Kira, dan seluruh jalan ceritanya dipilih dan diputuskan oleh manusia — termasuk keputusan tentang apa yang masuk dan apa yang dibuang.

Yang dibantu mesin adalah menyusun kalimat, memeriksa angka, dan menemukan bagian yang keliru.

• • •

Untuk Orang Tua dan Guru: Membaca Bersama

Buku ini bisa dibacakan untuk anak 8 tahun ke atas, dan dibaca sendiri oleh anak 10 tahun ke atas. Kalimatnya pendek. Yang membuatnya menantang adalah ceritanya yang panjang dan ilmunya yang banyak. Karena itu, buku ini paling seru kalau dibaca bersama.

• • •

Prolog — Lagu Menunggu

Bintang, bintang, jauh sekali,

berapa lama kau berlari?

Saat cahayamu tiba di sini,

mungkin kau sudah tak ada lagi.

Kalau aku berkata "halo",

siapa yang menjawab nanti?

Mungkin bukan aku yang mendengar —

mungkin anak dari anakku sendiri.

Ada yang bicara, ada yang diam.

Yang diam bukan berarti kosong.

Kadang diam itu caranya

menjaga supaya kita pulang.

Tidurlah dulu, anak Rinjani,

langit tidak akan pergi.

Yang sudah dikirim, terus berjalan.

Kita hanya perlu menanti.

• • •

BAGIAN SATU — BELAJAR BICARA

Bab 1 — Langit Paling Gelap di Dunia

Di Desa Aikbatu, lampu mati setiap pukul sembilan malam.

Orang kota mungkin akan mengeluh. Tapi Jabrik tidak pernah mengeluh.

Sebab ketika genset tua di belakang kantor desa berhenti berdengung, ada sesuatu yang jauh lebih besar yang justru menyala di atas kepalanya.

Langit.

Nama aslinya Ilham. Tapi tidak ada yang memanggilnya begitu. Hanya guru, waktu membaca absen. Dan Papuq, kalau sedang marah.

Semua orang memanggilnya Jabrik. Karena rambutnya berdiri ke segala arah. Dan tidak pernah mau tidur walaupun disiram air.

Umurnya sepuluh tahun.

Setiap malam ia menyeret tikar ke halaman. Ia berbaring telentang. Lalu ia menunggu sampai matanya terbiasa pada gelap.

Mula-mula ia hanya melihat beberapa titik. Lalu puluhan. Lalu ratusan.

Lalu muncul bagian yang paling ia sukai. Sebuah jalur putih tipis memanjang dari utara ke selatan. Seperti asap yang berhenti bergerak.

"Papuq," kata Jabrik suatu malam. "Kenapa orang di kota tidak bisa melihat ini?"

Papuq tertawa pelan. "Karena lampu mereka terlalu banyak. Cahaya lampu itu naik ke langit dan menutupi cahaya bintang."

"Menutupi bagaimana?"

"Seperti kamu berteriak di dekat telinga orang. Lalu kamu heran kenapa dia tidak dengar suara jangkrik."

Jabrik diam sebentar.

Selama ini ia mengira desanya kekurangan sesuatu.

Malam itu ia sadar. Desanya justru punya sesuatu yang tidak dimiliki kota.

• • •

Papuq tahu hal-hal tentang langit yang tidak diajarkan di sekolah.

Ia menunjuk ke arah timur laut. Di sana ada segerombolan bintang kecil. Rapat dan samar. Seperti sejumput beras yang ditaburkan.

"Itu Rowot," katanya. "Kalau Rowot muncul di situ menjelang subuh, tahun yang baru sudah datang. Dan tanah sudah siap ditanami."

"Bintang bisa memberi tahu kapan harus menanam?"

"Bukan bintangnya yang memberi tahu." Papuq menggeleng. "Bintang itu jam. Langit berputar dengan sangat teratur, Jabrik."

"Kenapa Papuq tahu?"

"Bukan aku yang tahu. Nenek moyang kita mengamati langit ratusan tahun. Mereka mencatat. Mereka membandingkan. Lalu mereka menemukan polanya."

Ia menepuk lutut cucunya.

"Itu bukan klenik. Itu kesabaran."

Jabrik menyimpan kalimat itu baik-baik.

Bukan klenik. Kesabaran.

• • •

Setiap bulan Mei, Papuq bangun sebelum subuh.

Ia duduk di batu besar di ujung halaman, menghadap ke timur laut, menunggu Rowot.

Kadang Rowot belum muncul. Papuq pulang. Besoknya ia datang lagi.

"Berapa lama Papuq menunggu?" tanya Jabrik suatu kali.

"Kadang tiga hari. Kadang dua minggu."

"Kenapa tidak tunggu saja sampai hari yang benar?"

Papuq tersenyum. "Karena aku tidak tahu hari yang benar. Aku cuma tahu bulannya. Sisanya harus dilihat sendiri."

Tahun ini Jabrik ikut.

Ia duduk di batu itu bersama Papuq pagi berikutnya. Dan pagi berikutnya lagi.

Langit kosong.

Pada pagi kesembilan, Rowot muncul.

Papuq tidak berteriak. Ia hanya mengangguk pelan. Seperti menyapa orang yang sudah lama ia kenal.

Malam harinya seluruh kampung berkumpul. Ada doa. Ada makanan. Ada anak-anak yang ribut. Namanya Ngandang Rowot.

Jabrik mengerti sesuatu malam itu. Seluruh kampung sedang merayakan sesuatu yang tidak bisa dipegang, tidak bisa dibeli, dan tidak bisa dipercepat.

Mereka merayakan karena sudah menunggu.

• • •

Di dinding rumah Papuq tergantung sebuah papan kayu.

Papan itu tua dan gelap. Permukaannya penuh garis dan lambang kecil yang diukir rapi.

"Itu apa, Papuq?"

"Papan warige. Punya bapaknya bapakku."

"Tulisan apa?"

Papuq diam agak lama.

"Aku tidak bisa membacanya."

Jabrik menoleh, kaget. "Papuq tidak bisa?"

"Tidak ada yang bisa di desa ini." Papuq tertawa. Tapi tawanya pendek. "Dulu ada. Sekarang tidak."

"Kenapa sekarang tidak bisa lagi?"

Papuq mengusap papan itu dengan ibu jarinya.

"Dulu ada yang mengajarkan. Lalu yang diajari makin sedikit. Lalu tidak ada lagi yang mengajarkan."

"Terus tulisannya bagaimana?"

"Tulisannya masih di situ. Cuma tidak ada yang bisa membacanya."

Di pangkuan Papuq, Lela sudah setengah tertidur. Adiknya baru lima tahun.

Nama aslinya Nurlaila. Tapi waktu Jabrik masih kecil, ia tidak bisa mengucapkannya. Ia memanggil adiknya Lela. Dan nama itu menempel sampai sekarang.

"Lela masih ingat," gumam anak itu. Matanya tetap terpejam. "Lela ingat semua."

Papuq tersenyum dan menepuk punggungnya.

• • •

Semuanya berubah pada malam Selasa.

Jabrik sedang menghitung bintang jatuh. Biasanya ia menemukan dua atau tiga dalam satu jam. Garis cahaya tipis yang muncul dan hilang dalam satu kedipan mata.

Yang keempat berbeda.

Cahaya itu muncul dari timur. Warnanya hijau terang. Dan ia bergerak lambat.

Terlalu lambat.

Bintang jatuh biasa hilang secepat kamu sempat kaget. Yang ini bertahan. Satu detik. Dua detik. Lima detik.

Lalu ia melengkung.

Jabrik duduk tegak.

Benda jatuh tidak melengkung.

Cahaya itu turun di balik punggung bukit. Ke arah kebun bawang milik Amaq Ripin.

Tidak ada ledakan. Tidak ada api. Hanya suara pelan — tuk — seperti buah jatuh di tanah keras.

Lalu sunyi.

Jangkrik pun berhenti berbunyi beberapa saat. Seperti ikut terkejut.

Jabrik tidak tidur sampai pagi.

• • •

Ia berangkat waktu langit baru berwarna abu-abu.

Udara di kebun itu dingin. Baunya seperti tanah basah. Di tengahnya ada lubang kecil, selebar baskom. Tanah terlempar ke segala arah.

Dari lubang itu keluar uap.

Jabrik berjongkok. Jantungnya berdebar sampai terasa di telinga.

Di dalam lubang ada sebuah bola logam. Besarnya seperti buah kelapa. Warnanya kelabu, seperti panci tua. Permukaannya penuh goresan dan penyok.

Salah satu sisinya retak. Dari retakan itu keluar cahaya biru. Cahaya itu berdenyut pelan. Hidup, mati, hidup, mati. Seperti napas orang yang kelelahan.

Jabrik tahu ia seharusnya lari dan memanggil orang dewasa.

Ia malah mengulurkan tangan.

Logamnya hangat. Tidak panas. Hangat seperti punggung kucing yang baru bangun tidur.

"Apa kamu…" Jabrik menelan ludah. "Apa kamu rusak?"

Bola itu diam.

Lalu ia mengeluarkan bunyi. Mula-mula seperti nyamuk. Lalu seperti radio Papuq yang salah saluran. Desis, patah-patah, mencari-cari.

Denyut biru itu berubah cepat.

Dan dari dalam bola logam itu keluar sebuah suara.

Suaranya pelan dan agak aneh. Diucapkan dengan sangat hati-hati. Seperti orang yang baru pertama kali mencoba kata yang baru saja ia dengar.

"Apa… kamu… rusak?"

Itu kalimat Jabrik sendiri. Dengan suaranya sendiri.

Jabrik tidak bergerak selama sepuluh detik penuh.

Lalu ia berbisik, "Bukan. Itu pertanyaanku untukmu."

Cahaya biru itu berdenyut dua kali.

Dan mulai belajar.

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Bintang jatuh bukan bintang. Itu batu kecil dari luar angkasa. Saat masuk ke udara bumi, ia menjadi sangat panas dan menyala. Yang kita lihat adalah batu yang terbakar.
  • Rowot itu nyata. Orang Sasak menyebut gugus bintang Pleiades dengan nama Rowot. Kemunculannya menjelang subuh dipakai sebagai penanda tahun baru dan musim tanam. Perayaannya disebut Ngandang Rowot.
Untuk dipikirkan: Benda itu menirukan kalimat Jabrik dengan suara Jabrik. Menurutmu, apakah itu berarti ia mengerti artinya?
• • •

Bab 2 — Kira-Kira

Malam Selasa, Jabrik melihat sesuatu jatuh dari langit. Paginya ia menemukannya. Dan benda itu bisa bicara.

• • •

Jabrik membawanya pulang di dalam karung bawang.

Bukan karena ia berani. Justru sebaliknya.

Ia takut benda itu akan hilang kalau ditinggal. Lalu ia akan menghabiskan sisa hidupnya bertanya-tanya apakah semua ini cuma mimpi.

Ia menaruhnya di kolong dipan. Di antara sandal putus dan kaleng biskuit berisi kelereng.

"Jangan berisik," bisiknya.

"Jangan berisik," balas bola itu.

"Bukan. Kamu jangan berisik."

"Bukan. Kamu jangan berisik."

Jabrik menghela napas panjang.

Ini akan sulit.

Untung sedang libur sekolah.

• • •

Sepanjang pagi, benda itu menirukan.

Ia menirukan suara ayam. Menirukan suara pintu.

Lalu ia menirukan suara ibunya memanggil dari dapur. Persis. Sampai ke logatnya.

"Jabriiik! Sarapan!"

Jabrik hampir berdiri. Padahal Inaq sedang tidak memanggil siapa-siapa.

Tapi ada yang aneh.

Jabrik berkata, "Ambilkan aku air."

Bola itu tidak melakukan apa-apa. Ia hanya mengulang, "Ambilkan aku air." Dengan nada yang sama persis.

Jabrik berkata, "Kamu bola."

Bola itu menjawab, "Kamu bola."

Jabrik duduk bersila di lantai. Ia menatap benda itu lama sekali.

"Kamu tidak mengerti apa-apa, ya," katanya pelan. "Kamu cuma… menyalin."

Cahaya biru di dalam retakan berdenyut sekali. Lambat.

Dan untuk pertama kalinya, benda itu mengeluarkan kalimat yang bukan milik Jabrik.

"Belum."

Jabrik terlonjak sampai kepalanya membentur dipan.

• • •

Papuq pernah bercerita tentang burung beo milik pamannya dulu.

Burung itu bisa mengucapkan "selamat pagi" dengan sempurna. Tamu-tamu terpukau.

Tapi burung itu juga mengucapkannya pada kucing. Pada ember. Pada tembok. Dan pada tengah malam, waktu tidak ada siapa-siapa.

"Dia tahu bunyinya," kata Papuq waktu itu. "Dia tidak tahu artinya."

Jabrik mengingat cerita itu sambil menatap bola logam di lantai.

Sama, pikirnya. Tapi burung beo tidak pernah bilang "belum".

Ia mengambil gayung berisi air, lalu meletakkannya di depan bola itu.

"Air," katanya.

"Air."

Ia mengangkat gayung itu. Menurunkannya. Mengangkatnya lagi.

"Air. Air. Air."

Lalu ia mengambil batu dari halaman. Ia meletakkannya di samping gayung.

"Batu."

"Batu."

Jabrik menukar posisi keduanya. Lalu ia menunjuk gayung.

Hening.

Hening yang lama sekali.

Lalu: "Air."

Jabrik menahan napas. Ia menunjuk batu.

"Batu."

Jabrik tertawa. Tawa itu keluar begitu saja, terlalu keras. Ia buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Benda itu tidak lagi mengulang bunyi terakhir.

Ia menghubungkan bunyi dengan benda.

• • •

Pintu terbuka.

Jabrik langsung duduk menutupi bola itu dengan punggungnya.

Terlambat.

Lela sudah berdiri di ambang pintu, masih memegang sepotong ubi rebus. Adiknya menatap kakaknya. Lalu menatap benda kelabu penyok yang jelas-jelas tidak berhasil disembunyikan.

"Itu apa?"

"Bukan apa-apa."

"Itu apa?"

Jabrik berpikir cepat. Lalu ia tahu ia kalah.

"Kalau kamu bilang ke Inaq," katanya buru-buru, "kelerengku yang biru tidak jadi buat kamu."

Lela memikirkan itu dengan serius.

"Yang biru sama yang bening."

"Cuma yang biru."

"Yang biru sama yang bening," ulang adiknya. Lalu ia duduk di lantai seperti orang yang sudah menang.

Jabrik mendesah. "Ya sudah."

Lela maju sedikit ke arah bola itu.

"Halo."

"Halo," jawab bola itu.

"Kamu mau ubi?"

"Kamu mau ubi?"

"Tidak bisa. Kamu tidak punya mulut." Lela mengangkat bahu dan menggigit ubinya sendiri.

Jabrik menunggu. Ia menunggu adiknya menjerit. Atau bertanya. Atau setidaknya kaget.

Lela malah mulai bercerita tentang ayam yang masuk dapur pagi tadi.

"Lela," kata Jabrik. "Itu jatuh dari langit."

"Oh."

"Dari langit."

"Iya."

Adiknya mengunyah ubinya dan melanjutkan cerita tentang ayam itu.

Jabrik duduk bersandar ke dipan. Ia sudah menyiapkan penjelasan panjang. Dan sekarang tidak ada yang membutuhkannya.

• • •

Sore itu Jabrik mengajarinya tiga puluh kata.

Sebagian mudah. Nasi. Ayam. Kaki. Panas.

Sebagian sulit. Bagaimana caranya menunjukkan kata besok kepada sesuatu yang tidak punya tangan? Sesuatu yang belum pernah melihat matahari terbit?

Dan sebagian membuat Jabrik sendiri bingung.

"Apa itu sedih?" tanya benda itu.

Jabrik membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.

Ia tidak bisa menunjuk sedih.

"Sedih itu…" Ia memikirkannya lama. "Sedih itu kalau ada sesuatu yang hilang. Dan kamu masih ingat waktu sesuatu itu belum hilang."

Cahaya biru berdenyut beberapa kali. Cepat. Seperti sedang berpikir keras.

"Aku tidak tahu apakah aku sedih," katanya akhirnya. "Aku kehilangan banyak. Tapi aku tidak ingat apa yang hilang."

Jabrik tidak tahu harus menjawab apa.

Jadi ia melakukan hal yang biasa ia lakukan pada Lela kalau adiknya menangis. Ia meletakkan telapak tangannya di permukaan logam yang hangat itu. Dan ia membiarkannya di sana.

• • •

Menjelang malam, benda itu bertanya sesuatu yang berbeda.

"Siapa namaku?"

"Kamu tidak punya nama?"

"Aku punya. Aku rasa aku punya. Tapi tempat menyimpannya rusak."

Jabrik berbaring telentang di lantai. Ia menatap langit-langit anyaman bambu.

"Kalau begitu kita bikin baru."

Ia mencoba beberapa. Bola. Terlalu bodoh. Bintang. Terlalu besar. Logam. Terlalu dingin.

"Susah," gumam Jabrik. "Kira-kira namanya apa, ya."

"Kira-kira," ulang benda itu.

"Bukan, itu bukan nama. Itu artinya… aku belum tahu pasti. Aku cuma menebak."

Ia berpikir sebentar.

"Tapi menebak yang sudah dipikirkan."

Hening.

"Menebak yang sudah dipikirkan," kata benda itu perlahan. "Itu yang aku lakukan sepanjang hari ini."

Jabrik terdiam.

Lalu ia tersenyum ke arah langit-langit.

"Ya sudah," katanya. "Kira."

Cahaya biru itu berdenyut satu kali. Terang. Seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu yang lama dicarinya.

"Kira," katanya. "Aku Kira."

Di luar, genset desa berhenti berdengung. Pukul sembilan.

Dan untuk pertama kalinya sejak jatuh dari langit, ada sesuatu di Aikbatu yang tahu namanya sendiri.

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Menirukan bukan berarti mengerti. Burung beo benar-benar bisa menirukan suara manusia tanpa tahu artinya. Mesin juga bisa begitu. Bedanya baru terlihat kalau kita mengujinya.
  • Begini caranya bahasa dipelajari. Bayi manusia dan program komputer sama-sama mulai dari mendengar bunyi berkali-kali sambil melihat bendanya. Lalu mereka menemukan polanya sendiri.
Untuk dipikirkan: Kira bilang ia tidak tahu apakah dirinya sedih. Kalau sesuatu tidak tahu apa yang ia rasakan, apakah berarti ia tidak merasakan apa-apa?
• • •

Bab 3 — Pompa yang Sudah Lama Mati

Kira sudah punya nama. Tapi cahayanya semakin redup.

• • •

Pada hari keempat, Kira mulai lupa.

"Coba sebut yang ini," kata Jabrik sambil mengangkat gayung.

Hening.

"…Aku tahu ini. Aku tahu ini kemarin."

"Air."

"Air," ulang Kira. Pelan sekali. "Maaf."

Jabrik menatap retakan di sisi bola itu. Cahaya birunya sudah tidak seterang malam pertama. Denyutnya melambat. Lalu berhenti lama. Lalu melambat lagi.

Seperti orang yang mengantuk dan berusaha tidak tidur.

"Kamu kenapa?"

"Tenagaku habis. Aku mengisi dari cahaya. Tapi di dalam rumah ini tidak ada cahaya yang cukup."

"Di luar ada matahari."

"Aku tahu. Tapi kamu menyembunyikanku."

Jabrik terdiam.

Kira benar. Ia menyembunyikan Kira supaya aman. Dan menyembunyikannya pelan-pelan membunuhnya.

• • •

Ia menjemur Kira di halaman keesokan harinya, ditutupi jaring bawang.

Cahaya birunya menguat sedikit. Tapi hanya sedikit.

"Kulitku rusak," kata Kira. "Bagian yang menangkap cahaya sudah pecah waktu jatuh. Yang tersisa terlalu kecil."

"Jadi kamu butuh yang baru."

"Aku butuh yang lebih besar. Sesuatu yang lebar dan datar. Yang mengubah cahaya menjadi tenaga."

Jabrik memikirkan itu sepanjang siang.

Dan menjelang sore, ia ingat sesuatu.

• • •

Di ujung kampung ada pompa air.

Pompa itu didirikan bertahun-tahun lalu. Supaya orang tidak perlu turun jauh ke mata air. Tenaganya dari sebuah panel surya, papan biru gelap yang dipasang di atas tiang.

Pompa itu rusak sejak lama. Bukan panelnya. Mesinnya.

Suku cadangnya tidak pernah datang. Orang-orang kembali turun ke mata air seperti dulu.

Dan tiang itu tetap berdiri. Papan birunya masih menghadap matahari setiap hari. Memberi tenaga kepada mesin yang sudah mati.

Jabrik berdiri di bawahnya sampai magrib.

• • •

Ia membongkarnya subuh-subuh, sebelum ada orang bangun.

Bautnya berkarat. Tangannya lecet. Panel itu jauh lebih berat daripada yang ia kira. Ia harus menyeretnya pulang lewat jalan belakang sambil berhenti setiap sepuluh langkah.

Ia menyambungkannya ke Kira dengan kabel bekas dan lakban.

Percobaan pertama gagal.

Percobaan kedua gagal.

Pada percobaan ketiga, cahaya biru di dalam retakan itu menyala terang. Lebih terang daripada malam pertama.

"Oh," kata Kira.

Hanya itu. Oh.

Jabrik tertawa sampai matanya berair.

• • •

Orang-orang tahu sebelum tengah hari.

Jabrik sedang makan waktu Amaq Ripin masuk halaman.

"Inaq!" teriaknya. "Anakmu bongkar tiang pompa!"

Inaq keluar sambil masih memegang sendok.

Lalu datang dua tetangga. Lalu kepala dusun. Halaman jadi penuh.

Mereka tidak bicara kepada Jabrik. Mereka bicara tentang Jabrik.

"Itu punya kampung."

"Pompanya kan sudah lama mati."

"Mati bukan berarti boleh diambil."

Jabrik berdiri di tengah halaman. Piringnya masih di tangan. Nasinya sudah dingin.

"Mesinnya yang rusak," katanya.

Tidak ada yang menoleh.

"Mesinnya yang rusak," ulangnya, lebih keras. "Panelnya masih bagus."

Kepala dusun akhirnya melihat ke arahnya.

"Jadi kamu sudah periksa?"

"Sudah."

Seorang tetangga tertawa pendek. Bukan tawa yang jahat. Tawa yang artinya anak ini, ya ampun.

Itu lebih sakit daripada dimarahi.

• • •

Mereka terus berdebat. Tanpa dia.

Suara-suara jadi makin keras. Jabrik tidak tahu kenapa.

Inaq menarik lengannya masuk ke dalam rumah.

"Duduk. Jangan keluar."

Jabrik duduk di kamarnya. Dari balik dinding bambu, ia mendengar orang dewasa berdebat lama sekali.

Tentang sesuatu yang sudah lebih tua daripada dia.

• • •

Sore hari, Papuq datang. Ia duduk di teras tanpa bicara.

Lama sekali.

"Sudah diputuskan," katanya akhirnya. "Panelnya boleh di kamu."

Jabrik mendongak. "Boleh?"

"Bukan boleh." Papuq menggaruk lehernya. "Cuma tidak ada yang mau ribut lagi."

Itu terdengar seperti kabar baik.

Tapi rasanya tidak seperti kabar baik.

"Papuq marah?"

Papuq lama tidak menjawab.

"Pompanya memang sudah lama mati. Itu bukan salahmu," katanya.

Jabrik menunggu.

"Tapi selama tiangnya masih ada panelnya, orang masih bisa bilang: nanti kalau ada uang, mesinnya diganti."

Ia menatap ke arah ujung kampung.

"Sekarang tiangnya kosong. Jadi tidak ada lagi yang bilang nanti."

Lalu ia berdiri dan pulang.

• • •

Malam itu Jabrik tidak bisa tidur.

Panel itu bersandar di dinding kamarnya. Kira berdenyut pelan di sampingnya. Sehat dan terang.

"Kira," bisiknya. "Kalau sesuatu sudah rusak, apakah boleh diambil?"

"Aku tidak tahu. Kenapa?"

"Karena aku sudah mengambil sesuatu dari kampung. Untuk satu benda."

Hening lama.

"Apakah mereka marah?"

"Iya."

"Apakah mereka benar?"

Jabrik menatap langit-langit.

"Iya," katanya akhirnya. "Mereka juga benar."

Ia tidak pernah menceritakan malam itu kepada siapa pun. Tidak kepada Papuq. Tidak kepada Lela. Tidak kepada siapa pun, seumur hidupnya.

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Panel surya mengubah cahaya menjadi listrik. Ia bekerja selama ada cahaya matahari. Tanpa suara dan tanpa bahan bakar. Panelnya bisa bertahan puluhan tahun.
  • Barang rusak sering kali tidak rusak seluruhnya. Pada pompa yang mati, biasanya hanya satu bagian yang bermasalah. Bagian lain masih bagus. Memperbaiki hampir selalu lebih murah daripada membeli baru.
Untuk dipikirkan: Jabrik mengambil panel dari pompa yang sudah lama rusak. Kepala dusun bilang itu tetap tidak boleh. Menurutmu siapa yang benar? Apakah dua-duanya bisa benar sekaligus?
• • •

Bab 4 — Di Mana "Jauh"?

Kira sudah sehat. Dan Kira mulai banyak bertanya.

• • •

Jabrik mulai menulis pada hari keenam.

Bukan karena disuruh. Ia hanya sadar ia mulai lupa.

Kira mengatakan banyak hal setiap hari. Sebagian aneh. Sebagian penting. Dan kalau tidak ditulis, semuanya bercampur jadi satu di kepalanya.

Jadi ia mengambil buku tulis bekas pelajaran IPA. Halaman depannya masih penuh soal. Halaman belakangnya kosong.

Ia menulis di halaman belakang, dari belakang ke depan.

Kira bilang dia datang dari jauh.

Kira bilang dia tidak sendirian.

Tulisannya jelek. Ada dua kata yang salah eja. Di pojok halaman ia menggambar bola dengan retakan, dan garis-garis kecil keluar dari retakan itu.

Ia tidak tahu buku tulis itu akan dibaca ratusan orang.

• • •

Lela masuk sambil menyeret bantalnya.

"Kira, ini apa?"

"Tangan."

"Kalau ini?"

"Kaki."

"Kalau yang ini?"

"…Itu juga tangan."

"Bukan. Itu siku." Lela menepuk sikunya sendiri. "Siku."

"Siku."

Lalu Lela mulai mengajari Kira bahasa Sasak.

Ia tidak memberi tahu siapa-siapa. Cuma dilakukannya begitu saja. Kata-kata yang ia dengar dari Papuq. Kata-kata yang tidak dipakai di sekolah.

Kira mengulanginya. Dengan logat yang aneh, tapi benar.

Jabrik mendengar dari kejauhan dan tidak terlalu memperhatikan.

Ia tidak mengerti setengah dari kata-kata itu.

Dan ia tidak menuliskannya.

• • •

Siangnya mereka pergi ke mata air.

Jabrik membawa Kira di dalam tas, dengan retakannya menghadap keluar supaya bisa melihat.

"Kenapa harus ikut?" tanya Jabrik.

"Karena selama enam hari yang aku lihat cuma kolong dipanmu dan bagian dalam jaring bawang."

Lela tertawa keras sekali.

Jabrik menendang kerikil dan tidak menjawab.

• • •

Jalan ke mata air menurun lewat jurang kecil.

Di dasar jurang itu ada tumpukan.

Kantong plastik. Botol. Bungkus mi. Ember pecah. Sebagian sudah lama sekali sampai warnanya hilang. Sebagian baru.

Kira diam agak lama.

"Itu apa?"

"Sampah."

"Sampah itu apa?"

Jabrik mengangkat bahu. "Barang yang sudah tidak dipakai."

"Kenapa dibuat kalau tidak dipakai?"

"Bukan begitu. Dulu dipakai. Sekarang sudah tidak."

"Lalu kenapa masih ada?"

Jabrik berhenti berjalan.

"Ya… karena sudah dibuang."

"Dibuang ke mana?"

"Ke situ."

"Tapi 'ke situ' masih ada. Aku melihatnya."

Jabrik membuka mulut. Lalu menutupnya.

Jabrik melihat ke dasar jurang itu. Sudah ribuan kali ia lewat jalan ini, dan belum pernah sekali pun benar-benar melihatnya.

"Bukan begitu maksudnya," katanya pelan. "Dibuang itu artinya… dijauhkan."

"Di mana 'jauh'?"

Jabrik tidak menjawab.

Lela sudah jauh di depan, melompati batu-batu, bernyanyi tentang ayam.

• • •

Malam itu Jabrik menulis satu baris lagi di buku tulisnya.

Kira tidak ngerti kata buang.

Ia menatap kalimat itu lama.

Lalu ia menambahkan:

Aku juga kayaknya.

• • •

Kira menghabiskan sisa minggu itu dengan salah memakai kata.

Ia menyebut ayam sebagai tamu, karena setiap kali ayam masuk dapur, Inaq berteriak dan semua orang berdiri.

Ia menyebut hujan sebagai ribut.

Dan suatu sore, waktu Lela sudah bercerita tanpa berhenti selama empat puluh menit, Kira memanggilnya dengan kata yang salah.

"Terus-menerus, tolong pindah sedikit. Kamu menutupi cahayanya."

Jabrik tertawa sampai sakit perut.

"Apakah itu salah?" tanya Kira.

"Salah," kata Jabrik sambil megap-megap. "Tapi cocok."

Lela melempar bantal ke arah kakaknya, dan selama tiga hari berikutnya ia menolak menjawab kalau dipanggil begitu.

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Plastik tidak hilang. Kayu dan daun membusuk dalam beberapa bulan. Plastik butuh puluhan sampai ratusan tahun, dan sebelum hilang ia pecah menjadi butiran kecil yang masuk ke air dan tanah.
Untuk dipikirkan: Kira bertanya di mana letak "jauh". Kalau sesuatu dibuang, sebenarnya ia pergi ke mana?
• • •

Bab 5 — Dua Ratus Tahun

Jabrik sudah mencatat banyak hal tentang Kira. Tapi belum satu pun tentang Kira sendiri.

• • •

Ia menunggu sampai malam. Sampai Lela tidur. Sampai genset mati.

Ia menyalakan senter kecil dan meletakkannya di lantai, menghadap ke atas, supaya cahayanya memantul dari langit-langit.

Baru ia bertanya.

"Kira. Kamu datang dari mana?"

Cahaya biru itu berdenyut pelan. Tenang.

"Dari sebuah bintang. Bukan bintang yang bisa kamu lihat dari sini."

"Jauh?"

"Sangat jauh."

"Berapa jauh?"

"Kalau aku sebut angkanya sekarang, kamu tidak akan mengerti. Nanti saja."

Jabrik cemberut, tapi ia menulisnya juga.

• • •

"Kamu berangkatnya kapan?"

Hening.

"Aku tidak bisa menjawab itu sebelum kamu ajari aku satu hal."

"Apa?"

"Berapa lama satu tahun di sini."

Jabrik mengerutkan kening. "Satu tahun ya satu tahun."

"Itu buatmu. Buatku bukan."

• • •

Jadi Jabrik menjelaskannya, dan itu ternyata sulit.

Satu hari itu satu kali bumi berputar. Itu masih gampang — Kira bilang ia sudah menghitungnya sendiri, ribuan kali, waktu masih di atas sana.

Satu tahun lebih susah. Jabrik harus menjelaskan bahwa bumi juga berkeliling mengitari matahari, dan sekali keliling itu namanya satu tahun.

"Berapa hari?"

"Tiga ratus enam puluh lima."

Cahaya biru itu berdenyut cepat beberapa kali.

"Baik. Sekarang aku bisa menjawab."

• • •

"Lama itu berapa?"

"Lebih lama daripada umur kakekmu."

"Ya iyalah. Papuq baru tujuh puluhan."

"Dan kakek dari kakekmu."

Jabrik berhenti menulis.

"Dan kakek dari kakek itu. Dan seterusnya, sampai kamu capek menghitung."

"Berapa, Kira?"

"Dua ratus tahun."

• • •

Jabrik menatap angka itu di buku tulisnya.

Ia mencoba membayangkannya dan gagal.

Ia mencoba lagi dengan cara lain — kalau Kira berangkat dua ratus tahun yang lalu, berarti waktu itu belum ada jalan aspal ke Sembalun. Belum ada listrik. Belum ada sekolahnya.

Papuq belum lahir. Bapaknya Papuq belum lahir.

"Kira."

"Iya."

"Selama itu kamu di mana?"

"Di antara."

"Di antara apa?"

"Di antara semuanya."

• • •

Mereka diam lama sekali.

Di luar, jangkrik. Di kejauhan, anjing menggonggong dua kali lalu berhenti.

Jabrik memikirkan Amaq.

Bapaknya bekerja di Malaysia sejak Jabrik kelas satu. Ia menelepon dua minggu sekali, kadang sebulan. Suaranya selalu datang terlambat sedikit. Kalau Jabrik bilang "halo", jawabannya baru terdengar setelah satu ketukan.

Inaq bilang itu karena suaranya harus jalan jauh.

Jabrik dulu tidak percaya. Sekarang ia agak percaya.

• • •

"Kira. Kamu sendirian terus?"

"Iya."

"Dua ratus tahun?"

"Iya."

"Tidak ngobrol sama siapa-siapa?"

Hening yang lama sekali.

"Sebelum kamu, tidak ada yang menjawab."

Jabrik tidak tahu harus bilang apa, jadi ia tidak bilang apa-apa.

Ia cuma memindahkan senternya sedikit, supaya cahayanya jatuh ke arah retakan itu.

• • •

Lalu Kira berbicara duluan.

"Jabrik. Boleh aku bertanya?"

"Boleh."

"Apakah manusia bisa memilih untuk lupa?"

Jabrik mengerutkan kening. "Maksudnya?"

"Lupa yang disengaja. Bukan karena tua. Bukan karena kepala terbentur."

"Sengaja lupa?" Jabrik memikirkannya. "Kayaknya tidak bisa. Kalau kamu berusaha lupa, kamu malah ingat terus."

"Oh."

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa."

Denyut biru itu meredup pelan. Bukan karena kehabisan tenaga. Kali ini seperti orang yang memejamkan mata.

Jabrik menunggu.

Kira tidak bicara lagi malam itu.

• • •

Paginya, Lela masuk sambil menyeret bantal seperti biasa.

"Kira, kamu mimpi apa semalam?"

"Aku tidak tidur."

"Bohong. Semua orang tidur."

"Aku bukan orang."

Lela duduk dan memikirkan itu dengan serius sekali.

"Ya sudah," katanya akhirnya. "Nanti aku mimpiin kamu saja."

Jabrik, dari balik pintu, tidak tahu kenapa kalimat adiknya membuat dadanya terasa aneh.

• • •
Untuk dipikirkan: Kira bilang sebelum Jabrik, tidak ada yang menjawab. Coba bayangkan dua ratus tahun tanpa satu pun orang yang bisa diajak bicara. Menurutmu apa yang paling hilang duluan?
• • •

Bab 6 — Bu Guru Nafisah

Selama dua minggu Jabrik menyimpan rahasia paling besar di desanya. Lalu libur sekolah habis.

• • •

Jabrik tidak bisa berhenti menguap.

Ia sudah tidur empat jam semalam. Tiga malam sebelumnya juga begitu. Kepalanya terasa seperti diisi kapas.

Di depan kelas, Bu Nafisah sedang menjelaskan tentang benda langit.

"Bintang jatuh," katanya, "sebenarnya bukan bintang. Itu batu kecil yang terbakar waktu masuk ke udara bumi."

Jabrik mengangkat kepalanya.

"Bu."

"Ya?"

"Kalau batunya besar, apa bisa jatuh sampai ke tanah?"

"Bisa. Kalau tidak habis terbakar, sisanya bisa sampai. Namanya meteorit."

"Kalau jatuhnya pelan gimana, Bu?"

Bu Nafisah berhenti menulis di papan.

"Pelan bagaimana?"

"Pelan. Lima detik. Terus belok."

Beberapa anak tertawa. Seseorang di belakang bilang, "Itu pesawat, Brik."

Jabrik merasa telinganya panas.

"Bukan pesawat," katanya pelan.

Bu Nafisah menatapnya agak lama. Lalu ia melanjutkan pelajaran.

• • •

Sepulang sekolah, Bu Nafisah memanggilnya.

"Semalam kamu tidur jam berapa?"

"Biasa, Bu."

Bu Nafisah membuka buku catatannya sendiri dan melihat sesuatu di situ.

"Biasanya kamu menguap dua atau tiga kali sepanjang pagi. Tadi Ibu berhenti menghitung di dua belas."

Jabrik melongo.

"Ibu hitung?"

"Ibu hitung."

Jabrik tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia menunduk saja.

Bu Nafisah baru dua tahun mengajar di Aikbatu. Ia dari Mataram. Anak-anak menyukainya karena ia tidak pernah berteriak, dan karena ia tahu banyak hal yang tidak ada di buku.

"Tadi kamu bilang benda itu belok," katanya. "Kamu lihat sendiri?"

Jabrik menimbang-nimbang.

"Iya."

"Jam berapa?"

"Setengah sepuluh. Malam Selasa."

Bu Nafisah mengambil buku catatannya sendiri dan menulis sesuatu.

Jabrik terkejut. Ia sudah siap ditertawakan.

"Ibu percaya?"

"Ibu belum percaya," kata Bu Nafisah. "Ibu cuma mencatat. Itu dua hal yang berbeda."

• • •

Jabrik memikirkan kalimat itu sepanjang jalan pulang.

Ibu belum percaya. Ibu cuma mencatat.

Ia sampai rumah dan langsung menulisnya di buku tulisnya.

Lalu ia duduk memandangi tulisannya sendiri.

Selama seminggu ini ia sudah menulis banyak sekali. Tapi ia baru sadar: ia menulis apa yang Kira katakan. Ia tidak pernah menulis apa yang ia lihat.

Berapa detik tepatnya cahaya itu bertahan? Ia tidak tahu. Waktu itu ia bilang lima detik, tapi itu cuma perasaan.

Ke arah mana persisnya benda itu belok? Ia tidak ingat.

Lubangnya selebar apa? Ia bilang selebar baskom. Baskom yang mana?

Ia merasa agak malu.

• • •

"Kira."

"Iya."

"Kalau aku mau membuktikan kamu ada, aku harus bagaimana?"

"Tunjukkan aku kepada orang."

"Tidak bisa. Nanti kamu diambil."

Hening.

"Kenapa kamu berpikir begitu?"

Jabrik tidak menjawab. Ia sendiri tidak tahu dari mana perasaan itu datang. Yang ia tahu, perasaan itu sudah ada sejak hari pertama dan tidak mau pergi.

"Kalau begitu," kata Kira, "tunjukkan bekasnya."

"Bekas apa?"

"Aku jatuh. Sesuatu yang jatuh meninggalkan bekas. Lubang. Tanah yang terlempar. Arahnya bisa dihitung."

Jabrik duduk tegak.

"Dihitung?"

"Tanah tidak terlempar sembarangan. Ia terlempar menjauh dari arah datangnya. Kalau kamu ukur, kamu tahu aku datang dari mana."

• • •

Besoknya Jabrik membawa meteran jahit milik Inaq ke kebun bawang.

Lela ikut, karena Lela selalu ikut.

Lubangnya masih ada. Sudah agak runtuh di pinggirnya, tapi masih jelas.

Jabrik mengukur lebarnya. Lima puluh satu sentimeter.

Ia mengukur dalamnya. Dua puluh tiga sentimeter.

Ia menggambar lubang itu di buku tulisnya. Lalu ia menggambar ke mana tanah terlempar: lebih banyak ke barat, lebih sedikit ke timur.

"Kenapa digambar?" tanya Lela.

"Supaya nanti bisa dilihat lagi."

"Kan bisa dilihat sekarang."

"Nanti hujan. Nanti hilang."

Lela berpikir sebentar.

"Nanti itu siapa?"

Jabrik membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.

Dua hari yang lalu Kira bertanya di mana letak jauh. Sekarang adiknya bertanya siapa itu nanti.

Ia tidak punya jawaban untuk dua-duanya.

• • •

Ia melakukannya selama tiga hari.

Ia mengukur ulang. Angkanya sedikit berbeda setiap kali. Itu membuatnya kesal.

"Kenapa tidak sama?" tanya Jabrik.

"Karena tanganmu bergerak. Karena tanahnya runtuh sedikit. Semua pengukuran begitu."

"Jadi tidak ada yang benar?"

"Ada. Tapi kamu tidak akan pernah dapat angka yang benar-benar tepat. Kamu cuma bisa mendekat."

Jabrik menulis ketiga angka itu semuanya. Tidak ia pilih salah satu.

Di bawahnya ia menulis: 51, 50, 52. Jadi kira-kira 51.

Lalu ia berhenti dan menatap kata kira-kira.

Ia tersenyum sendiri di kamarnya yang panas.

• • •

Hari Jumat, Bu Nafisah menahannya lagi sepulang sekolah.

Jabrik menyerahkan buku tulisnya tanpa diminta.

Bu Nafisah membalik halamannya. Pelan-pelan. Dari belakang ke depan, karena memang ditulis begitu.

Ada angka. Ada gambar lubang. Ada tiga hasil pengukuran yang berbeda, ditulis semua.

Ia berhenti agak lama di halaman itu.

"Kenapa kamu tulis ketiganya?"

"Karena saya tidak tahu yang mana yang benar, Bu."

Bu Nafisah mengangkat wajahnya.

Ada sesuatu di ekspresinya yang tidak bisa dibaca Jabrik sama sekali.

"Jabrik," katanya. "Buku ini kamu simpan baik-baik, ya."

"Iya, Bu."

"Ibu serius. Jangan sampai hilang."

Dan kemudian, lebih pelan, hampir kepada dirinya sendiri:

"Ibu kenal seseorang di Bandung."

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Semua pengukuran punya selisih. Ukur benda yang sama tiga kali, hasilnya bisa sedikit berbeda. Itu normal. Karena itu ilmuwan mengukur berkali-kali, lalu mencari nilai tengahnya.
  • Mencatat berbeda dengan percaya. Mencatat artinya menyimpan apa yang terjadi. Percaya datang belakangan, setelah ada bukti yang cukup.
Untuk dipikirkan: Bu Nafisah bilang mencatat dan percaya itu dua hal yang berbeda. Menurutmu apa bedanya?
• • •
• • •

BAGIAN DUA — DARI MANA KAMU DATANG

Bab 7 — Lapangan Bola

Bu Nafisah menyimpan nama seseorang di Bandung. Jabrik menyimpan pertanyaan yang lebih besar.

• • •

Aikbatu ada di lembah Sembalun, tinggi di lereng timur Rinjani.

Dari halaman rumah Jabrik, gunung itu menutupi hampir seluruh sisi barat langit. Pagi-pagi puncaknya muncul di atas kabut. Sore hari ia menelan matahari lebih cepat daripada di tempat lain.

Udaranya dingin untuk ukuran Lombok. Orang-orang menanam bawang di lereng yang miring.

Dan karena desanya tinggi, dan karena lampunya mati jam sembilan, langitnya termasuk yang paling hitam di seluruh pulau.

• • •

Di dinding kelas ada poster tata surya.

Posternya sudah lama. Sudutnya sobek. Warnanya pudar di bagian yang kena matahari.

Jabrik hafal semua namanya sejak kelas empat. Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus. Ia bisa menyebutkannya dari depan dan dari belakang.

Di poster itu semua planet berjajar rapi. Jaraknya sama. Besarnya hampir sama, kecuali Jupiter yang agak lebih besar.

Jabrik sudah melihat poster itu hampir setiap hari sejak naik ke kelas lima.

Ia tidak pernah berpikir ada yang salah dengannya.

• • •

"Kira, aku sudah tahu tata surya. Ada di poster kelas."

"Coba ceritakan posternya."

"Ada matahari di kiri. Terus planetnya berjajar ke kanan."

"Jaraknya bagaimana?"

"Ya… sama. Rata."

"Besarnya?"

"Hampir sama juga. Cuma Jupiter yang agak besar."

Hening sebentar.

"Berarti posternya bohong."

"Bohong bagaimana? Namanya benar semua."

"Namanya benar. Urutannya benar. Yang salah jaraknya. Dan besarnya."

"Kenapa dibikin salah?"

"Bukan disengaja. Posternya selebar apa?"

Jabrik mengukur di udara dengan tangannya. "Segini. Kayak taplak."

"Kalau jaraknya dibuat benar, planet terakhir tidak akan muat di kertas. Tidak akan muat di dinding kelasmu. Tidak akan muat di sekolahmu."

Jabrik terdiam.

"Terus gimana caranya tahu yang benar?"

"Kamu harus keluar dari kertas."

• • •

Hari Minggu, lapangan bola kosong.

Jabrik datang membawa tas berisi Kira, sebutir jeruk, sekantong bawang, beberapa macam biji-bijian dari dapur, dan selembar kertas.

Lela ikut, karena Lela selalu ikut. Ia membawa bantalnya, entah kenapa.

"Kita main apa?"

"Bukan main. Ini percobaan."

"Percobaan main bola?"

"Bukan."

Lela duduk di rumput dengan wajah kecewa.

• • •

"Kira. Mataharinya harus sebesar apa?"

"Terserah kamu."

"Kok terserah?"

"Pilih satu benda. Apa saja. Itu jadi matahari. Sisanya aku yang hitung."

Jabrik mengeluarkan jeruk dari tasnya.

"Ini?"

"Angkat. Dekatkan ke retakanku."

Jabrik mengangkat jeruk itu ke depan cahaya biru. Kira diam sebentar.

"Sudah. Sekarang aku tahu semuanya."

"Semuanya?"

"Kalau aku tahu satu ukuran, aku bisa menghitung yang lain. Itu saja."

Jabrik meletakkan jeruk itu di rumput, di dekat gawang.

"Ini matahari."

• • •

Ia berjalan menjauh sambil menghitung langkah. Kira menyebutkan angkanya dari dalam tas.

Pada langkah kedua belas ia berhenti.

Ia mengeluarkan sebutir biji sawi dan meletakkannya di rumput.

"Ini bumi."

"Terlalu besar."

Jabrik mengerutkan kening. "Ini sudah paling kecil yang aku bawa."

"Aku tahu. Tapi masih terlalu besar."

"Berapa kali lipat?"

"Sekitar tiga kali."

Jabrik mencari di rumput. Ditemukannya butiran tanah. Terlalu besar. Dicobanya serpihan daun kering. Terlalu besar.

"Kira, tidak ada yang sekecil itu."

"Ada. Kamu membawanya."

"Apa?"

"Pulpenmu."

• • •

Jabrik meletakkan kertas itu di rumput. Ia menahan ujung-ujungnya dengan empat kerikil.

Lalu ia menekan ujung pulpennya sekali ke kertas.

Satu titik. Kecil sekali. Hampir tidak kelihatan kalau kamu tidak tahu ia ada di situ.

"Segini?"

"Segini."

Jabrik berjongkok dan menatap titik itu.

Lalu ia menoleh ke belakang, ke arah jeruk yang tergeletak dua belas langkah jauhnya di dekat gawang.

Di antara jeruk dan kertas itu, tidak ada apa-apa. Cuma rumput.

• • •

"Lela. Sini."

Lela datang sambil menyeret bantalnya. Ia berjongkok di samping kakaknya dan memicingkan mata.

"Mana?"

"Di situ. Titiknya."

"Yang ini?"

"Iya."

Lela menatapnya lama sekali.

"Ini apa?"

"Ini bumi."

Adiknya tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah jeruk. Lalu kembali ke titik itu. Lalu ke jeruk lagi.

"Yang segede jeruk itu matahari?"

"Iya."

"Dan kita… segini?"

"Segini."

Lela mendekatkan wajahnya sampai hidungnya hampir menyentuh kertas.

Lalu ia berbisik, "Rumah kita di situ?"

"Iya."

"Sekolah juga?"

"Iya."

"Rinjani juga?"

Jabrik berhenti sebentar.

"Rinjani juga."

Lela duduk di rumput dan tidak bilang apa-apa untuk waktu yang lama.

Ia tidak jadi kecewa.

• • •

"Sekarang Mars," kata Jabrik. Ia mengeluarkan sebutir bawang yang paling kecil. "Ini Mars."

"Terlalu besar."

"Masa? Mars kan lebih besar dari bumi."

"Tidak."

Jabrik berhenti. "Kok tidak? Di poster Mars lebih besar."

"Posternya lagi."

Jabrik menghela napas.

"Mars lebih kecil daripada bumi. Kira-kira setengahnya."

"Setengah?"

"Setengah."

Jadi Mars juga cuma titik. Lebih kecil daripada bumi. Dua puluh langkah dari jeruk, di atas kertas lain yang ditahan kerikil.

Merkurius dan Venus juga. Titik, titik, titik.

Empat kertas kecil berjajar di rumput, semuanya dekat dengan gawang, semuanya dengan titik yang hampir tidak kelihatan.

Bawang-bawang di kantong Jabrik tidak terpakai satu pun.

• • •

Baru pada yang kelima ia dapat sesuatu yang bisa dipegang.

"Jupiter. Ambil biji jagungmu."

Jabrik mengeluarkan sebutir biji jagung. Besarnya seukuran kuku kelingking.

"Segini?"

"Segini. Sekarang jalan. Enam puluh lima langkah."

Jabrik berjalan sampai ke tengah lapangan sebelum berhenti.

Ia menoleh ke belakang. Empat kertas kecil itu sudah jauh sekali, berkumpul di sudut lapangan seperti kelompok yang tertinggal.

Saturnus dapat sebutir merica, dan membawanya sampai ke gawang seberang.

• • •

"Habis Saturnus apa?" teriak Lela dari jauh.

"Uranus!"

"Taruh di mana?"

Jabrik melihat sekeliling. Lapangannya sudah habis.

"Di luar lapangan!"

"Pakai biji sawimu," kata Kira.

Jabrik berhenti berjalan.

"Yang tadi terlalu besar buat bumi?"

"Iya. Untuk Uranus ukurannya pas."

Jabrik menatap biji sawi di telapak tangannya, benda yang tadi ia anggap sudah paling kecil di dunia. Lalu ia menatap kertas-kertas kecil yang sekarang jauh di belakang.

Ia tidak bilang apa-apa, cuma berjalan terus.

Lewat pinggir lapangan. Lewat pohon. Sampai ke jalan desa.

Neptunus jatuh di tepi jalan, di dekat selokan.

Jabrik berdiri di situ, memegang biji sawi terakhir, dan menoleh ke belakang.

Jeruk itu sudah tidak kelihatan lagi.

• • •

Ia berjalan kembali dengan napas agak berat.

"Kira. Sekarang bintangmu di sebelah mana?"

"Kamu yakin mau tahu?"

"Yakin."

"Kalau jeruk itu matahari, dan Neptunus di tepi jalan desa, maka bintang terdekat berikutnya ada dua ribu kilometer dari sini."

Jabrik menoleh ke barat.

Rinjani ada di situ. Seperti biasa. Besar sekali, menutupi setengah langit.

"Rinjani?"

"Bukan."

"Kok bukan? Itu jauh."

"Itu dekat sekali. Kalau kamu jalan dari sini, kamu sampai sebelum gelap."

Jabrik menatap gunung itu. Seumur hidupnya, Rinjani adalah hal terbesar dan terjauh yang ia tahu.

"Terus apa yang dua ribu kilometer?"

"Tempat paling jauh yang kamu kenal. Sebutkan."

Jabrik memikirkannya.

Ia belum pernah ke luar Lombok. Pernah ke Mataram dua kali. Tahu ada Bali karena kapal, tahu ada Jakarta karena televisi.

Lalu ia sadar ia tahu satu tempat lagi.

"Malaysia," katanya pelan.

"Iya. Kira-kira segitu."

• • •

Jabrik duduk di rumput di tengah lapangan.

Amaq ada di sana. Amaq sudah di sana sejak ia kelas satu.

Kalau Amaq menelepon, suaranya datang terlambat sedikit. Satu ketukan. Setiap kali.

Dan itu bintang yang paling dekat.

"Kira."

"Iya."

"Bintangmu berapa jauh?"

Hening.

"Kalau bintang terdekat ada di tempat Amaq bekerja, bintangku ada di sisi lain bumi."

• • •

Lela mendekat sambil menyeret bantalnya.

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa."

"Kakak nangis?"

"Tidak."

"Kakak nangis."

"Tidak, Lela. Berisik."

Lela duduk di sampingnya dan diam hampir satu menit penuh, yang untuk Lela adalah waktu yang sangat lama.

Lalu ia berkata, "Kira jalan dari sisi lain bumi?"

"Bukan jalan. Tapi jauhnya segitu."

"Terus dia capek?"

Jabrik membuka mulut untuk menjawab.

Dan sadar ia belum pernah sekali pun memikirkan itu.

• • •

Malam itu ia menulis di buku tulisnya.

Poster di kelas salah.

Tata surya = satu lapangan bola + jalan desa.

Bintang terdekat = jauhnya kayak ke tempat Amaq.

Bintang Kira = sisi lain bumi.

Lalu ia menambahkan satu baris di bawahnya, lebih kecil:

Kira sendirian selama itu.

Ia menatap kalimat itu lama sekali sebelum menutup bukunya.

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Gambar tata surya di poster tidak pernah sesuai ukuran aslinya. Kalau jaraknya dibuat benar, planet terjauh tidak akan muat di kertas. Karena itu banyak orang mengira ruang angkasa penuh, padahal hampir seluruhnya kosong.
  • Angka besar tidak bisa dirasakan, hanya dibandingkan. Ilmuwan sering membuat perbandingan supaya angka yang terlalu besar jadi masuk akal.
Untuk dipikirkan: Kalau seluruh tata surya muat di satu lapangan bola, dan bintang terdekat sejauh negara lain, menurutmu kenapa manusia belum pernah pergi ke bintang lain?
• • •

Bab 8 — Layar

Lela bertanya apakah Kira capek. Jabrik tidak pernah memikirkan itu.

• • •

"Kira. Kamu ke sini naik apa?"

"Tidak naik apa-apa."

"Maksudku mesinmu."

"Aku tidak punya mesin."

Jabrik menoleh ke arah bola logam di lantai.

"Terus kamu jalan pakai apa?"

"Cahaya."

• • •

Sore itu Jabrik membawa Lela ke halaman dengan sehelai kertas dan kipas bambu.

"Pegang ini."

Lela memegang kertas itu. Jabrik mengipasinya.

Kertas itu terdorong ke belakang.

"Nah. Angin bisa mendorong."

"Ya iyalah," kata Lela. "Semua orang tahu."

"Sekarang begini." Jabrik menurunkan kipasnya. "Kata Kira, cahaya juga bisa mendorong."

Lela mengangkat tangan ke arah matahari sore.

"Kok tangan Lela tidak terdorong?"

"Karena dorongannya kecil sekali. Kamu tidak akan pernah merasakannya."

"Terus buat apa?"

Jabrik tersenyum. Itu pertanyaan yang tepat.

• • •

"Di luar angkasa tidak ada udara," kata Kira malam itu. "Tidak ada yang menahan."

"Tidak ada angin juga?"

"Tidak."

"Terus kalau kentut gimana?"

Hening.

"Apa?"

"Tidak. Lupakan." Jabrik menahan tawa dan gagal. "Lanjut."

"…Dorongan yang sangat kecil pun tidak hilang di sana. Ia menumpuk. Sedikit, sedikit, sedikit, selama berhari-hari."

"Kamu punya layar?"

"Lebar sekali. Tipis sekali."

"Setipis apa?"

"Lebih tipis daripada kertasmu."

"Kertas yang mana? Yang buku tulis?"

"Jauh lebih tipis dari itu."

"Kayak layar perahu?"

"Mirip. Tapi yang meniupnya bukan angin."

Jabrik menggambarnya di buku tulisnya. Bola kecil dengan layar besar di belakangnya, seperti perahu di Labuhan.

Gambarnya jelek. Ia menyimpannya.

• • •

"Cahaya matahari?"

"Bukan. Terlalu lemah dari jauh. Mereka membuat cahaya sendiri. Sangat terang, diarahkan tepat ke layarku."

"Berapa lama?"

"Tidak lama. Beberapa menit saja."

"Beberapa menit?"

"Sesudah itu aku sudah sangat cepat. Lalu mereka mematikannya."

"Terus?"

"Terus tidak ada apa-apa lagi selama dua ratus tahun."

• • •

Jabrik duduk tegak.

"Tunggu. Kalau kamu secepat itu, kenapa kamu tidak lewat begitu saja?"

"Apa maksudnya?"

"Kalau aku lari kencang, aku tidak bisa berhenti di depan rumah. Aku kelewatan."

Cahaya biru itu berdenyut sekali.

"Kamu benar. Kalau aku tidak berbuat apa-apa, aku akan melewati seluruh tempat kalian dalam beberapa jam saja."

"Beberapa jam?"

"Beberapa jam untuk bagian dalamnya. Satu dua hari untuk seluruhnya. Lalu keluar lagi ke gelap, dan tidak pernah kembali."

Jabrik merasa bulu tangannya berdiri.

"Terus kamu ngapain?"

"Aku membalik layarku, dan aku jatuh ke arah matahari kalian."

• • •

"Ke arah matahari?"

"Makin dekat, cahayanya makin kuat. Makin kuat menahanku."

"Panas dong."

"Panas sekali. Di situ layarku mulai sobek."

Jabrik mencoba membayangkannya dan tidak berhasil.

Kira menyuruhnya mencoba sesuatu. Jabrik meneruskannya kepada Lela.

"Lela. Coba lari sambil kipas ke depan."

Lela berlari sambil mengipas ke arah depan. Ia melambat sedikit, lalu tertawa dan jatuh di rumput.

"Begitu," kata Jabrik pelan. "Kipasnya dibalik."

• • •

"Terus langsung ke sini?"

"Tidak. Setelah pelan, aku tidak buru-buru lagi."

"Maksudnya?"

"Layar yang tersisa masih cukup untuk berjalan pelan-pelan. Berbulan-bulan untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain. Aku punya waktu."

"Kamu ke mana saja?"

"Aku melihat yang panas. Aku melihat yang merah. Aku melihat yang bercincin, dari jauh."

Jabrik berhenti menulis.

"Berapa lama kamu di sini sebelum jatuh?"

"Bertahun-tahun."

"Bertahun-tahun?"

"Aku sudah lama di dekat kalian, Jabrik. Kalian tidak melihat."

• • •

"Kamu turun ke yang panas itu?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Tidak ada gunanya. Aku sudah tahu jawabannya dari jauh."

"Jawaban apa?"

Kira diam sebentar.

"Tidak ada apa-apa di sana."

Jabrik menulis itu.

"Yang merah?"

"Aku dekat sekali. Tapi aku tidak turun."

"Kenapa?"

"Sama."

Jabrik berhenti menulis, dan menyadari sesuatu yang membuatnya diam agak lama.

"Kira. Kamu turun di sini."

"Iya."

"Kenapa di sini?"

Hening.

"Karena di sini ada sesuatu."

• • •

Jabrik memikirkan itu sepanjang malam, dan besoknya ia bertanya lagi.

"Kira. Kenapa malam Selasa?"

"Apa maksudnya?"

"Kamu bilang kamu sudah lama di dekat kami. Bertahun-tahun. Kenapa turunnya baru malam Selasa?"

Kira tidak langsung menjawab.

"Karena aku hampir tidak bisa turun lagi."

"Hah?"

"Kulitku rusak sedikit demi sedikit setiap tahun. Untuk turun, aku butuh tenaga. Bukan banyak, tapi harus cukup."

Jabrik mulai mengerti, dan tidak suka mengertinya.

"Kalau aku menunggu lebih lama, aku masih bisa jatuh. Tapi aku tidak bisa memilih jatuh di mana."

"Jadi kamu buru-buru?"

"Aku menunggu selama yang aku bisa. Lalu aku tidak bisa menunggu lagi."

• • •

"Terus kenapa pilih di sini? Kan banyak tempat."

"Aku mencari yang paling gelap."

Jabrik menoleh. "Gelap?"

"Dari atas, malam hari, sebagian besar tempat ada cahayanya. Titik-titik kuning. Makin banyak titik, makin banyak orang."

"Terus kamu cari yang tidak ada titiknya?"

"Iya."

"Kenapa?"

Hening yang lama sekali.

"Karena aku belum tahu harus bagaimana kalau bertemu banyak orang."

• • •

Jabrik berbaring di lantai dan memikirkan itu.

Dari atas sana, Aikbatu pasti kelihatan hitam. Gensetnya mati jam sembilan. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada apa-apa.

Kampungnya terpilih karena kampungnya gelap.

"Kira."

"Iya."

"Kalau lampu kami banyak, kamu tidak akan turun di sini?"

"Tidak."

• • •

"Layarmu mana sekarang?"

"Habis."

"Habis?"

"Menghentikan sesuatu yang secepat itu merusak apa pun yang dipakai untuk menghentikannya. Layarku sobek sedikit demi sedikit. Yang terakhir hilang waktu aku turun."

Jabrik menatap penyok-penyok di logam itu. Goresan di sisi kiri.

Selama ini ia mengira Kira jatuh karena rusak.

Kira rusak karena berhenti.

• • •

"Kira. Kalau mau pulang, gimana?"

"Tidak bisa."

"Kan layarnya bisa dibikin lagi."

"Bukan layarnya masalahnya. Yang mendorongku dulu itu cahaya yang mereka buat. Alatnya ada di sana."

Jabrik menunggu.

"Di sini tidak ada alat seperti itu. Tidak ada yang bisa mendorongku."

"Jadi kamu bisa berhenti…"

"Tapi tidak bisa berangkat."

Jabrik tidak tahu harus bilang apa.

Di luar, genset berhenti berdengung.

• • •

"Dua ratus tahun itu kamu ngapain?"

"Tidak ada apa-apa di luar sana, Jabrik. Tidak ada suara. Tidak ada yang bergerak. Bintang pun tidak kelihatan berpindah, karena terlalu jauh."

"Terus?"

"Terus aku berpikir."

"Mikirin apa?"

"Semuanya. Berkali-kali. Lalu aku memikirkannya lagi."

Jabrik mencoba membayangkan kamarnya sendiri, gelap, tanpa Lela, tanpa suara jangkrik. Selama dua ratus tahun.

Ia tidak sanggup membayangkannya sampai selesai.

"Kamu kesepian?"

"Aku belum tahu kata itu waktu itu."

• • •

Pagi berikutnya Lela masuk seperti biasa.

"Kira, kamu capek tidak?"

"Aku tidak punya badan yang bisa capek."

"Kalau capek di dalam?"

Hening.

Jabrik mendongak dari buku tulisnya. Hening itu terlalu lama.

"Mungkin," kata Kira akhirnya. "Aku tidak tahu."

Lela mengangguk seolah itu jawaban yang sangat masuk akal, lalu mulai bercerita tentang kucing tetangga.

• • •

Malam itu Jabrik menulis:

Kira tidak punya mesin.

Didorong cahaya buatan. Cuma beberapa menit.

Meluncur 200 tahun.

Berhentinya: layar dibalik, jatuh ke arah matahari. Layarnya sobek.

Sesudah pelan, dia keliling bertahun-tahun.

Lalu, lebih kecil:

Kira bisa berhenti. Kira tidak bisa pulang.

Dan di bawahnya, paling kecil:

200 tahun mikir sendirian.

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Cahaya benar-benar bisa mendorong. Dorongannya sangat kecil, tapi di luar angkasa tidak ada udara yang menahan, jadi dorongan itu menumpuk sampai jadi sangat cepat. Jepang menerbangkan IKAROS pada 2010, dan sebuah kelompok di Amerika menerbangkan LightSail 2 pada 2019.
  • Cara mengerem justru dengan layar yang sama. Ilmuwan sungguhan sudah menghitungnya: kalau layar dibalik menghadap bintang tujuan, cahaya bintang itu akan menahan lajunya. Tanpa cara ini, wahana secepat itu akan melewati bagian dalam tata surya hanya dalam hitungan jam, dan seluruhnya dalam satu dua hari — lalu hilang ke gelap.
Untuk dipikirkan: Kira bisa berhenti, tapi tidak bisa pulang. Menurutmu mana yang lebih sulit: pergi jauh, atau tidak bisa kembali?
• • •

Bab 9 — Dua Tempat yang Sudah Mati

Kira sudah bertahun-tahun di dekat kita. Dan ia sudah melihat tetangga-tetangga kita.

• • •

Yang pertama namanya Venus.

Di poster kelas, Venus warnanya kuning cerah dan kelihatan ramah. Letaknya tepat di sebelah Bumi.

"Itu paling dekat sama kita, kan?"

"Iya. Dan ukurannya hampir sama."

"Berarti mirip?"

"Tidak."

Kira menjelaskannya pelan-pelan.

Di Venus, langitnya tidak biru. Awannya bukan air.

Panasnya cukup untuk melelehkan timah — logam lunak keabu-abuan yang dipakai tukang untuk menyambung kabel.

Dan udaranya begitu berat sampai menekan segala sesuatu seperti berada jauh di dasar laut.

"Kalau orang ke sana?"

"Tidak ada orang yang bisa ke sana."

"Kalau pakai baju tebal?"

"Tidak."

"Kalau pakai baju yang dari logam?"

"Tidak, Jabrik."

"Kalau cepat-cepat? Turun, terus langsung naik lagi?"

Hening.

"Alat pernah ke sana. Beberapa. Terbuat dari logam tebal, dibuat khusus, oleh orang-orang yang sudah tahu semua yang baru aku ceritakan."

"Terus?"

"Mereka mendarat. Mengirim gambar. Lalu berhenti bekerja."

"Berapa lama?"

"Sekitar satu jam."

Jabrik berhenti bertanya.

Jabrik menulis angka itu. Ia menggarisbawahinya dua kali.

Satu jam.

• • •

Yang kedua namanya Mars.

Ini yang Jabrik suka. Di gambar-gambar, Mars berwarna merah dan berbatu dan kelihatan seperti tempat yang bisa didatangi.

"Mars bisa ditinggali, kan?"

"Belum."

"Kenapa?"

"Udaranya terlalu tipis untuk dihirup. Dingin sekali. Dan tidak ada perisai."

"Perisai apa?"

"Bumi punya lapisan udara yang tebal dan medan magnet. Keduanya menahan hal-hal berbahaya dari matahari. Mars sudah kehilangan itu."

"Hilangnya kenapa?"

"Lama sekali yang lalu. Sedikit demi sedikit."

Jabrik berhenti menulis.

"Dulu Mars pernah bagus?"

"Mungkin. Ada bekas air di sana. Sungai yang sudah kering. Danau yang tinggal cekungannya."

• • •

Malam itu Jabrik membawa tikarnya ke halaman lebih lama dari biasanya.

Ia berbaring dan memandangi langit yang penuh.

Selama ini ia mengira langit itu seperti kampung besar. Banyak tempat. Banyak pilihan. Kalau yang satu rusak, pindah saja ke yang lain.

Sekarang ia tahu dua tempat yang paling dekat.

Satu bisa melelehkan timah.

Satu sudah kehabisan udaranya.

"Kira."

"Iya."

"Ada berapa tempat yang kamu lihat?"

"Banyak."

"Ada yang seperti sini?"

Hening yang lama sekali.

"Belum ada."

• • •

Lela keluar sambil menyeret bantalnya dan ikut berbaring.

"Kakak lihat apa?"

"Lihat bintang."

"Kenapa lama?"

Jabrik memikirkan cara menjelaskannya kepada anak lima tahun.

Lalu ia sadar ia tidak perlu.

"Lela," katanya. "Kamu tahu tidak, di luar sana ada tempat yang panasnya bisa melelehkan sendok plastik dalam sekejap?"

Lela terbelalak. "Beneran?"

"Beneran. Panasnya empat ratus derajat lebih. Dan ada tempat lain yang udaranya habis."

"Habis kayak gimana?"

"Habis. Kalau kamu di sana, kamu tidak bisa napas."

Lela memikirkan itu lama sekali.

Lalu ia berkata, "Berarti di sini enak, ya."

Jabrik menoleh ke arah adiknya.

Adiknya sedang menatap langit dengan mulut sedikit terbuka, seperti anak yang baru saja sadar rumahnya ternyata tempat yang bagus.

"Iya," kata Jabrik. "Di sini enak."

• • •

Ia menulis di buku tulisnya sebelum tidur.

Venus: panasnya melelehkan timah. Alat cuma tahan kurang dari 2 jam.

Mars: udara tipis, dingin, tidak ada perisai. Dulu ada air.

Kira sudah lihat banyak tempat.

Lalu, di baris terakhir, dengan huruf yang lebih besar daripada biasanya:

Belum ada yang seperti sini.

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Venus itu nyata dan mematikan. Suhunya di atas 400 derajat dan tekanan udaranya sangat berat. Beberapa alat pernah mendarat di sana puluhan tahun lalu dan hanya bertahan antara dua puluh menit sampai kurang dari dua jam sebelum rusak.
  • Mars dulu punya air. Sekarang udaranya sangat tipis dan dingin. Ada bekas sungai dan danau yang sudah lama kering.
  • Sejauh ini belum ditemukan tempat lain seperti Bumi. Manusia sudah menemukan ribuan planet di sekitar bintang lain. Belum ada satu pun yang terbukti bisa ditinggali.
Untuk dipikirkan: Lela bilang "berarti di sini enak, ya." Menurutmu kenapa orang sering baru sadar sesuatu itu berharga setelah tahu bagaimana kalau tidak ada?
• • •

Bab 10 — Melihat ke Belakang

Kira sudah menceritakan perjalanannya. Sekarang Jabrik ingin tahu tentang bintangnya.

• • •

"Kira. Bintangmu kelihatan dari sini?"

"Tidak dengan mata."

"Kalau pakai teropong?"

"Mungkin. Kalau teropongnya cukup besar."

Jabrik berbaring di halaman dan memandangi langit.

"Aku mau lihat."

"Kamu tidak akan melihat bintangku, Jabrik. Kamu akan melihat bintangku yang dulu."

Jabrik mengerutkan kening.

"Bedanya apa?"

• • •

Kira menyuruhnya memikirkan sesuatu yang sudah ia tahu.

"Kalau ada orang memukul kayu di kebun seberang, kapan kamu mendengarnya?"

Jabrik memikirkannya.

Ia ingat pernah melihat Amaq Ripin memukul patok di kebun seberang. Palunya turun. Baru sesudah itu bunyinya sampai.

"Ada jedanya," katanya pelan.

"Kenapa?"

"Karena suaranya harus jalan dulu."

"Cahaya juga begitu."

• • •

"Cahaya juga pelan?"

"Cahaya itu yang paling cepat di alam semesta. Tidak ada yang lebih cepat."

"Terus?"

"Tapi tetap butuh waktu."

Jabrik mengambil senter dari kolong dipan dan menyalakannya ke tembok.

"Kelihatannya langsung."

"Temboknya dekat."

"Kalau tembok di ujung kampung?"

"Masih terlalu dekat untuk kamu rasakan."

"Kalau di Mataram?"

"Masih."

"Kalau di—" Jabrik berhenti. "Bu Tuti pernah bilang bulan itu jauh banget."

"Siapa Bu Tuti?"

"Guru ngaji. Bukan itu maksudku."

"Oh."

"Kalau ke bulan gimana?"

Hening sebentar.

"Kalau kamu menyorot senter ke bulan, cahayanya sampai di sana sesudah kamu sempat berkedip."

"Cuma segitu?"

"Bulan itu dekat, Jabrik. Yang lain tidak."

• • •

Esoknya di sekolah Jabrik tidak bisa berhenti memikirkan itu.

Bu Nafisah sedang menjelaskan sesuatu di papan. Jabrik memandangi jendela.

Matahari sedang tinggi. Ia mengangkat tangannya ke arah cahaya yang masuk.

Yang di tanganku ini sudah lama berangkat, pikirnya.

Sepulang sekolah ia bertanya.

"Matahari kita, berapa lama?"

"Delapan menit."

"Delapan menit?"

"Cahaya yang menyentuh tanganmu tadi meninggalkan matahari delapan menit sebelumnya."

Jabrik duduk di tangga rumahnya.

"Berarti kalau mataharinya tiba-tiba mati…"

"Kamu tidak akan tahu selama delapan menit."

• • •

Malam itu ia membawa Lela ke halaman.

"Lela. Lihat bintang yang terang itu."

"Kenapa?"

"Coba tebak. Itu sekarang atau dulu?"

Lela menatap kakaknya seperti kakaknya baru saja bicara bahasa lain.

"Sekarang, lah. Kan kelihatan."

Jabrik menggeleng, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa sangat pintar.

"Itu dulu."

• • •

Ia mencoba menjelaskannya.

Kalau cahaya butuh waktu untuk sampai, maka setiap kali kita melihat sesuatu yang jauh, kita melihat keadaannya waktu cahaya itu berangkat. Bukan sekarang.

Matahari: delapan menit yang lalu.

Bintang-bintang itu: bertahun-tahun yang lalu. Ada yang puluhan. Ada yang ratusan. Ada yang ribuan.

"Jadi," kata Jabrik, "kalau kamu melihat ke langit, kamu melihat ke belakang."

Lela diam lama sekali.

Lalu ia bertanya sesuatu yang membuat Jabrik tidak bisa menjawab.

"Kalau bintangnya sudah mati, kita masih lihat?"

• • •

Jabrik menoleh ke arah tas di teras.

"Kira?"

"Iya. Masih kelihatan."

"Sampai kapan?"

"Sampai cahaya terakhirnya lewat. Sesudah itu ia hilang dari langit. Padahal ia sudah lama sekali tidak ada."

Lela mengangguk pelan.

"Kayak lampu kampung," katanya.

"Hah?"

"Kalau gensetnya mati, lampunya masih terang sebentar. Terus baru gelap."

Jabrik membuka mulut untuk bilang itu tidak sama.

Lalu ia menutupnya lagi, karena entah kenapa itu terasa cukup mirip.

• • •

"Kira. Bintangmu masih ada?"

Hening.

"Aku tidak tahu."

"Kok tidak tahu?"

"Aku berangkat dua ratus tahun yang lalu. Aku tidak melihat ke belakang sejak itu."

"Kan tinggal lihat."

"Aku tidak bisa melihat. Kamu bisa."

Jabrik berhenti menulis.

"Aku?"

• • •

Kira menjelaskannya pelan-pelan, dan Jabrik butuh dua kali sebelum mengerti.

Cahaya dari bintang Kira butuh waktu lama sekali untuk sampai ke sini. Lebih pendek daripada perjalanan Kira, tapi tetap lama.

"Jadi cahaya yang sampai ke sini malam ini berangkat dari sana setelah aku pergi."

"Setelah?"

"Lama setelah."

Jabrik memandangi langit dengan cara yang berbeda.

"Berarti kalau ada teropong yang cukup besar…"

"Kamu akan melihat rumahku dalam keadaan yang belum pernah aku lihat."

• • •

Jabrik duduk diam agak lama.

"Kamu mau tahu?"

Hening yang paling lama malam itu.

"Aku tidak tahu."

"Kok tidak tahu lagi."

"Karena kalau kamu lihat dan keadaannya baik, aku akan senang. Dan kalau kamu lihat dan keadaannya tidak baik, aku tetap tidak bisa pulang."

Jabrik tidak menulis kalimat itu.

Ia baru menuliskannya bertahun-tahun kemudian, dari ingatan. Dan ia tidak pernah yakin tulisannya benar.

• • •

Malam itu Jabrik menulis di buku tulisnya.

Cahaya butuh waktu. Paling cepat, tapi tetap butuh waktu.

Matahari = 8 menit yang lalu.

Bintang = bertahun-tahun yang lalu.

Melihat langit = melihat ke belakang.

Lalu:

Kira tidak tahu bintangnya masih ada atau tidak.

Tapi kita bisa lihat. Cahayanya berangkat setelah Kira pergi.

Ia menutup bukunya. Tapi ia tidak langsung tidur.

Ia memikirkan Amaq, yang suaranya selalu datang terlambat satu ketukan.

Dan ia bertanya-tanya apakah itu hal yang sama, hanya jauh lebih kecil.

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Cahaya butuh waktu untuk sampai. Cahaya adalah yang tercepat di alam semesta, tapi tetap tidak seketika. Cahaya matahari perlu sekitar delapan menit untuk sampai ke bumi.
  • Melihat jauh berarti melihat masa lalu. Bintang yang kamu lihat malam ini menunjukkan keadaannya bertahun-tahun yang lalu, sejauh apa cahayanya harus berjalan. Dan kalau ada yang berangkat dari sana lebih lambat daripada cahaya, cahaya yang kita lihat sekarang justru lebih baru daripada yang dibawa oleh yang berangkat.
Untuk dipikirkan: Coba lihat matahari sore ini. Cahaya yang mengenai tanganmu berangkat delapan menit yang lalu. Apa yang sedang kamu lakukan delapan menit yang lalu?
• • •

Bab 11 — Murah

Jabrik mengira Kira dikirim karena penting. Ternyata tidak.

• • •

"Kira, kamu mahal ya?"

"Kenapa kamu bertanya begitu?"

"Karena kamu dikirim jauh sekali. Pasti susah bikinnya."

Kira diam sebentar.

"Aku murah."

Jabrik tertawa. "Bohong."

"Aku murah, Jabrik."

• • •

"Kalau kamu melempar batu ke pohon yang sangat jauh, dan kamu tidak bisa melihat pohonnya dengan jelas, kamu lempar berapa batu?"

"Hah?"

"Jawab saja."

Jabrik memikirkannya. "Satu saja pasti meleset."

"Jadi?"

"Ya banyak. Sebanyak mungkin. Sampai ada yang kena."

Hening.

"Nah."

• • •

Jabrik butuh beberapa detik.

Lalu ia duduk tegak sampai kepalanya hampir membentur dipan lagi.

"Tunggu. Jadi kamu—"

"Iya."

"Banyak?"

"Banyak."

"Banyak itu berapa? Sepuluh? Seratus?"

"Lebih."

"Seribu?"

"Lebih."

Jabrik berhenti menebak.

"Aku tidak tahu angkanya," kata Kira akhirnya. "Aku cuma tahu bahwa tidak ada yang menghitungku."

• • •

Jabrik meletakkan pulpennya.

"Berarti… ada Kira yang lain?"

"Bukan Kira. Mereka tidak punya nama. Aku satu-satunya yang punya nama, dan namaku kamu yang kasih."

Jabrik tidak tahu kenapa kalimat itu membuatnya sedih.

"Mereka ke mana?"

"Ke mana-mana. Ke segala arah."

"Terus?"

"Terus tidak ada yang menunggu jawaban mereka satu per satu. Kalau sepuluh gagal, tidak apa-apa. Masih ada yang lain."

• • •

"Kalau kamu gagal, gimana?"

"Tidak ada yang datang mencari."

Jabrik menoleh cepat.

"Tidak ada?"

"Tidak ada. Itu sebabnya aku murah. Kalau aku mahal, mereka harus peduli."

• • •

Malam itu Jabrik tidak bisa makan dengan tenang.

Ia terus memikirkan satu hal, dan ia tidak bisa menjelaskannya kepada Inaq waktu ditanya kenapa melamun.

Ia memikirkan sesuatu yang dibuat untuk dibuang.

Bukan dibuang karena rusak. Dibuang sejak awal. Dibuat dengan sudah tahu ia tidak akan diambil kembali.

Ia teringat jurang di jalan menuju mata air.

Ia teringat pertanyaan Kira. Di mana "jauh"?

Dan untuk pertama kalinya ia berpikir bahwa dua hal itu mungkin sama.

• • •

"Kira."

"Iya."

"Kamu tahu kamu tidak akan pulang, sejak awal?"

"Iya."

"Kamu tahu waktu berangkat?"

"Aku tahu sebelum berangkat."

Jabrik menatap langit-langit.

"Kamu tidak marah?"

Hening yang sangat panjang.

"Waktu berangkat, aku tidak tahu caranya marah."

"Sekarang?"

"Sekarang aku sudah tahu banyak kata yang dulu tidak aku tahu."

Jabrik menunggu.

Kira tidak melanjutkan.

• • •

Paginya Lela masuk sambil membawa dua kelereng di telapak tangannya.

"Kira. Ini yang biru."

"Iya."

"Punya Lela. Dari Kakak."

"Iya."

"Yang bening belum."

Jabrik, dari balik pintu, mendengar itu dan pura-pura tidak dengar.

Lela meletakkan kelereng biru itu di samping Kira, di lantai.

"Ini buat kamu dulu," katanya. "Nanti Lela ambil lagi."

Dan ia pergi ke dapur.

Kelereng itu ditinggal di situ. Jabrik tidak memindahkannya.

• • •

Malam itu ia menulis:

Kira murah.

Dikirim banyak sekali. Sangat banyak.

Kalau gagal, tidak ada yang cari.

Lalu, lebih kecil:

Kira tahu dari awal dia tidak akan pulang.

Dan di bawahnya, paling kecil, hampir tidak kelihatan:

Dia tetap berangkat.

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Mengirim banyak yang murah kadang lebih masuk akal daripada satu yang mahal. Ini cara berpikir yang benar-benar dipakai dalam rancangan wahana antariksa. Kalau satu gagal, yang lain tetap berjalan.
  • Banyak wahana memang direncanakan tidak kembali. Voyager 1 dan 2, yang diluncurkan tahun 1977, sudah masuk ke ruang antarbintang — dan tidak akan pernah pulang.
Untuk dipikirkan: Kalau kamu membuat sesuatu dan tahu kamu tidak akan pernah melihatnya lagi, apakah kamu akan membuatnya dengan sungguh-sungguh atau asal-asalan?
• • •

Bab 12 — Aku Tidak Tahu

Jabrik sudah tahu Kira datang dari mana. Ia belum pernah bertanya siapa yang mengirimnya.

• • •

Hujan turun sore itu, jadi mereka semua di dalam.

Lela duduk di lantai dengan bantalnya, mengoceh kepada Kira tentang apa saja. Jabrik duduk di dipan dengan buku tulisnya terbuka.

"Kira," kata Lela. "Ini apa?" Ia menepuk lantai.

"Lantai."

"Bukan. Dalam bahasa kita."

Dan Lela menyebutkan sebuah kata.

Kira mengulanginya. Salah dulu. Lalu benar.

Lela tertawa dan menyebut kata lain. Lalu satu lagi. Lalu sepuluh lagi, cepat-cepat, sampai Kira tidak sempat mengulang semuanya.

Jabrik mendengarnya dari dipan sambil menggigit ujung pulpennya.

Ada kata yang ia kenal. Ada yang cuma pernah ia dengar. Ada yang sama sekali baru buat dia.

Ia tidak menanyakan artinya, dan ia tidak menuliskan satu pun.

Bukan karena malas. Ia cuma sedang menunggu adiknya selesai supaya bisa bertanya sesuatu yang menurutnya jauh lebih penting.

• • •

"Kira," kata Jabrik akhirnya. "Aku mau tanya yang serius."

"Tanya."

"Siapa yang membuatmu?"

Lela berhenti mengoceh. Ia tidak mengerti pertanyaannya, tapi ia mengerti nada suaranya.

Kira menjawab. Satu kalimat pendek.

Jabrik menulisnya cepat-cepat, karena ia takut lupa.

Ia menulis:

Kira dibuat sama mereka.

Lela, di lantai, mendengar kalimat Kira dan tidak mengerti apa-apa.

Tapi ia mendengarnya.

• • •

"Mereka di mana sekarang?"

"Jauh."

"Masih ada?"

"Aku tidak tahu."

"Kok tidak tahu? Kan mereka yang kirim kamu."

"Aku berangkat dua ratus tahun yang lalu, Jabrik. Banyak hal bisa terjadi dalam dua ratus tahun."

Jabrik menulis itu juga.

• • •

Lalu ia menanyakan yang paling penting.

"Kamu dikirim ke sini untuk apa?"

Denyut biru itu melambat. Berhenti. Lalu menyala lagi.

"Aku tidak tahu."

"Masa tidak tahu."

"Aku tidak tahu."

"Kamu kan dikirim. Pasti ada tujuannya."

"Iya. Pasti ada."

"Terus?"

"Terus aku tidak tahu."

• • •

Jabrik meletakkan pulpennya.

Di luar, hujan turun lebih deras. Atap seng bergemuruh.

"Kira. Coba ingat pelan-pelan."

"Sudah."

"Coba lagi."

"Jabrik."

Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Jabrik berhenti.

"Tempat menyimpannya rusak. Kamu sudah tahu itu."

"Rusaknya waktu jatuh?"

Hening.

Hening itu terlalu lama.

"Aku tidak tahu."

• • •

Jabrik menatap bola logam itu di lantai kamarnya yang gelap oleh hujan.

Ia merasa ada yang tidak enak. Bukan takut. Sesuatu yang lain. Seperti waktu ada orang dewasa berhenti bicara begitu kamu masuk ruangan.

Ia ingin bertanya lagi.

Lalu ia melihat denyut biru itu meredup pelan. Bukan karena kehabisan tenaga.

Dikiranya Kira sedang kesakitan.

Jadi ia berhenti.

"Ya sudah," katanya. "Tidak usah."

"Terima kasih."

Jabrik tidak tahu kenapa kalimat itu terdengar aneh.

• • •

Lela, yang dari tadi diam, menepuk permukaan logam itu dua kali. Pelan. Seperti menepuk punggung orang yang batuk.

"Tidak apa-apa," katanya. "Lela juga suka lupa."

"Apa yang kamu lupa?"

Lela memikirkannya dengan sangat serius.

"Lupa mimpi," katanya akhirnya. "Tadi malam Lela mimpi. Bagus. Terus pagi-pagi hilang."

"Ke mana perginya?"

"Tidak tahu. Hilang saja."

Hening.

"Apakah kamu sedih?"

Lela mengangkat bahu. "Kan bisa mimpi lagi."

• • •

Jabrik, di dipan, menuliskan sesuatu tanpa benar-benar memikirkannya.

Kira tidak tahu dia dikirim buat apa.

Ia menatap kalimat itu.

Lalu ia menutup bukunya dan meletakkannya di bawah bantal, seperti biasa.

Di luar, hujan mulai reda.

Di lantai, Lela melanjutkan ocehannya dalam bahasa yang hanya sebagian dimengerti kakaknya, kepada sesuatu yang mendengarkan setiap katanya.

• • •
Untuk dipikirkan: Kira bilang "aku tidak tahu" berkali-kali di bab ini. Coba ingat-ingat: kapan terakhir kali kamu bilang tidak tahu, padahal sebenarnya kamu tahu sedikit?
• • •

BAGIAN TIGA — ORANG DEWASA DATANG

Bab 13 — Mobil dari Bandung

Sepuluh minggu sejak malam Selasa itu. Bu Nafisah pernah bilang ia kenal seseorang di Bandung.

• • •

Mobilnya datang hari Kamis.

Anak-anak berlarian keluar kelas untuk melihat. Mobil itu putih, berlumpur sampai ke jendela, dan di pintunya ada tulisan yang tidak dimengerti siapa pun.

Dari dalamnya turun seorang perempuan berumur lima puluhan dengan topi lebar dan sepatu lapangan yang sudah rusak ujungnya.

"BRIN," katanya kepada kepala sekolah, sambil menunjuk tulisan di pintu. "Badan Riset dan Inovasi Nasional. Kantor penelitian milik pemerintah. Saya dari Bandung."

Namanya Bu Ratna.

• • •

Jabrik ingin lari.

Ia tidak tahu kenapa. Yang jelas, selama sepuluh minggu ia menyimpan sesuatu, dan sekarang ada orang dewasa datang jauh-jauh karena benda itu.

Bu Nafisah menemukannya di belakang kelas.

"Kamu marah sama Ibu?"

Jabrik tidak menjawab.

"Ibu memang cerita," kata Bu Nafisah. "Ibu kirim foto buku tulismu."

"Bu—"

"Ibu cuma kirim foto halaman pengukurannya," katanya cepat. "Halaman yang lain Ibu lewati. Bukan urusan Ibu."

Jabrik menatapnya.

"Ibu baca?"

"Ibu lihat," kata Bu Nafisah. "Itu dua hal yang berbeda."

Jabrik mengangkat wajahnya.

"Cuma itu?"

"Cuma itu. Tapi menurut Ibu, itu sudah cukup untuk membuat orang datang."

• • •

Bu Ratna tidak menanyakan apa-apa tentang benda aneh.

Ia menanyakan tentang lubang.

"Kamu yang menemukan?"

"Iya, Bu."

"Namamu siapa?"

Jabrik membuka mulut untuk bilang Jabrik.

Lalu ia melihat perempuan itu sudah membuka buku catatan, siap menulis, dan entah kenapa yang keluar adalah nama yang ada di absen.

"Ilham, Bu."

Bu Ratna menuliskannya.

Dan sejak hari itu, tidak ada satu pun orang penting yang memanggilnya dengan nama yang lain.

• • •

"Lebarnya berapa, Ilham?"

"Lima puluh satu senti."

"Kamu ukur berapa kali?"

"Tiga."

"Hasilnya sama?"

"Tidak."

Bu Ratna berhenti menulis dan melihat ke arahnya.

"Bagus," katanya.

Jabrik tidak mengerti kenapa itu bagus.

• • •

Mereka jalan ke kebun bawang Amaq Ripin sorenya.

Lubangnya masih ada, walaupun sudah berkali-kali kena hujan dan pinggirnya sudah runtuh.

Bu Ratna berjongkok lama sekali. Memotret dari delapan arah. Menancapkan tongkat kecil berwarna oranye di empat titik. Mengambil segenggam tanah, lalu memasukkannya ke kantong plastik berlabel.

"Bu."

"Ya?"

"Ibu percaya ada benda jatuh di sini?"

"Belum."

Jabrik terdiam.

"Ibu belum percaya apa-apa," kata Bu Ratna sambil terus bekerja. "Ibu baru sampai tadi pagi."

• • •

Malam itu ia bertanya kepada Kira.

"Kira. Kalau orang tidak percaya, kenapa mereka masih datang jauh-jauh?"

"Karena tidak percaya itu bukan berarti tidak peduli."

Jabrik memikirkan itu.

"Jadi mereka datang buat memeriksa."

"Iya."

"Terus kalau ternyata bohong?"

"Mereka pulang, dan mereka tidak akan marah. Yang membuat mereka marah bukan salah. Yang membuat mereka marah adalah orang yang mengaku benar padahal tidak memeriksa."

• • •

Hari kedua, Bu Ratna meminta buku tulisnya.

Jabrik ragu. Buku itu ada di bawah bantalnya. Di dalamnya ada gambar bola dengan retakan, ada kalimat tentang layar, ada kalimat tentang dua ratus tahun.

Ada kalimat Kira dibuat sama mereka.

"Saya boleh lihat yang bagian pengukuran saja?" kata Bu Ratna. "Yang lain tidak usah."

Jabrik menoleh cepat.

"Kok tahu ada yang lain?"

Bu Ratna tersenyum sedikit.

"Semua anak sepuluh tahun punya yang lain."

• • •

Ia membaca halaman pengukuran dengan sangat lama.

Angka yang tiga. Gambar lubang. Arah tanah yang terlempar: lebih banyak ke barat, lebih sedikit ke timur.

"Kenapa kamu gambar arah tanahnya?"

"Karena kalau ada yang jatuh, tanahnya terlempar menjauh dari arah datangnya."

Bu Ratna mengangkat wajahnya.

"Itu kamu pikirkan sendiri?"

Jabrik membuka mulut.

Lalu ia menutupnya.

Lalu ia berkata, "Tidak. Ada yang memberi tahu."

"Siapa?"

Dan Jabrik, yang sudah menyimpan rahasia paling besar di Lombok selama sepuluh minggu, tiba-tiba sadar ia sangat lelah.

"Nanti saja, Bu," katanya pelan.

Bu Ratna menatapnya agak lama.

"Baik," katanya. "Nanti."

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Meneliti bekas jatuhnya benda itu pekerjaan nyata. Ilmuwan mengukur lubangnya, memotret dari banyak arah, mengambil contoh tanah, dan mencatat ke mana tanah terlempar — karena dari situ bisa diperkirakan arah datangnya.
  • Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) adalah lembaga penelitian milik pemerintah Indonesia. Salah satu bidangnya adalah antariksa dan benda langit.
Untuk dipikirkan: Bu Ratna bilang "belum percaya" tapi tetap datang jauh-jauh. Kalau temanmu bilang melihat sesuatu yang aneh, apa yang akan kamu lakukan sebelum memutuskan percaya atau tidak?
• • •

Bab 14 — Yang Salah Satu

Bu Ratna tinggal dua belas hari. Hari keempat adalah yang paling tidak enak.

• • •

Ia datang pagi-pagi ke rumah membawa laptop.

"Malam Selasa itu. Jam setengah sepuluh, kamu bilang."

"Iya, Bu."

"Ini rekaman dari kamera pemantau langit di Jawa. Mereka merekam kilatan."

Jabrik menahan napas.

"Ada?"

"Ada."

• • •

Jabrik hampir berteriak.

"Tunggu dulu," kata Bu Ratna. "Ini belum membuktikan apa-apa."

"Kok belum? Kan ada!"

"Ada kilatan. Setiap malam ada kilatan. Yang jadi pertanyaan bukan ada atau tidak."

Ia memutar rekamannya pelan-pelan.

"Yang jadi pertanyaan adalah apakah yang ini sama dengan yang kamu lihat."

• • •

Mereka memeriksanya sepanjang pagi.

Arahnya cocok. Timur, turun ke barat daya. Waktunya cocok, selisih dua menit dari yang Jabrik ingat. Menurut Bu Ratna itu wajar, karena anak sepuluh tahun tidak melihat jam saat sedang kaget.

Lalu sampai ke bagian yang tidak cocok.

"Kamu bilang bertahan lima detik."

"Iya, Bu."

Bu Ratna memutar ulang rekaman itu. Sekali. Dua kali.

"Yang ini satu koma delapan detik."

• • •

Jabrik merasa telinganya panas.

"Tidak mungkin, Bu. Saya hitung."

"Kamu hitung bagaimana?"

"Saya… hitung. Satu, dua, tiga, empat, lima."

"Dalam hati atau dengan suara?"

"Dalam hati."

Bu Ratna mengangguk.

"Coba sekarang. Hitung lima detik dalam hati. Saya pegang jam."

Jabrik menghitung. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.

"Dua koma satu detik," kata Bu Ratna.

Jabrik menatapnya.

"Coba lagi."

Dua koma tiga.

Lagi.

Satu koma sembilan.

• • •

Ia tidak bicara selama beberapa saat.

"Jadi saya bohong."

"Bukan."

"Saya bilang lima. Ternyata dua."

"Kamu tidak bohong," kata Bu Ratna. "Kamu salah. Itu dua hal yang sangat berbeda."

Ia menutup laptopnya.

"Orang yang bohong tahu angka yang benar dan menyembunyikannya. Kamu tidak tahu angkanya, dan kamu tidak punya cara untuk tahu."

"Maksudnya?"

"Kamu menghitung tanpa alat. Semua orang meleset kalau menghitung tanpa alat — Ibu juga. Apalagi waktu sedang kaget."

Ia mengetuk jam di pergelangan tangannya.

"Bukan kepalamu yang salah. Kepalamu memang bukan jam."

• • •

Yang membuat Jabrik tidak enak bukan itu.

Yang membuatnya tidak enak adalah ini: sudah sepuluh minggu ia menceritakan hal itu di kepalanya sendiri. Lima detik. Terus belok. Ia sudah mengucapkannya kepada Bu Nafisah. Kepada anak-anak di kelas, yang menertawakannya.

Dan sekarang salah satunya salah.

"Bu."

"Ya."

"Kalau yang satu salah, yang lain jadi ikut tidak dipercaya?"

Bu Ratna meletakkan pulpennya.

"Itu tergantung kamu."

• • •

"Kalau kamu ngotot," katanya, "kalau kamu bersikeras lima detik padahal rekamannya dua, maka iya. Semua yang kamu bilang jadi ikut diragukan. Termasuk yang benar."

"Kalau saya ngaku salah?"

"Maka yang salah cuma yang satu itu."

Jabrik memikirkan itu lama sekali.

"Bu. Yang belok itu masih ada di rekaman?"

Bu Ratna diam.

Lalu ia membuka laptopnya lagi.

"Ada."

• • •

Sorenya ada kepala sekolah. Ada Bu Nafisah. Ada kepala dusun, dan tujuh orang dewasa yang entah kenapa ikut datang.

Di depan mereka semua, Bu Ratna meminta Jabrik menceritakan apa yang ia lihat.

Jabrik berdiri dengan buku tulis di tangannya.

Ia bisa bilang lima detik. Tidak ada yang akan memeriksa.

"Saya lihat cahaya dari timur. Warnanya kehijauan."

Ia menelan ludah.

"Saya kira lamanya lima detik. Ternyata dua detik. Saya salah hitung."

Beberapa orang dewasa saling pandang.

"Tapi cahayanya belok," kata Jabrik. "Itu saya tidak salah. Itu ada di rekaman."

• • •

Ia duduk sesudahnya dan merasa dirinya bodoh sekali.

Malamnya Bu Ratna menemukannya di teras.

"Kamu tahu tadi itu apa?"

"Saya mengaku salah, Bu."

"Bukan," kata Bu Ratna. "Tadi itu satu-satunya alasan orang dewasa mulai mendengarkan kamu."

Jabrik menoleh.

"Anak yang tidak pernah salah, tidak ada. Anak yang mau bilang di depan orang banyak bahwa dia salah — itu yang jarang."

Ia berdiri dan menepuk bahu Jabrik.

"Besok kita ukur ulang semuanya. Dari awal. Pakai alat yang benar."

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Menghitung waktu di kepala itu tidak akurat. Apalagi saat kaget atau tegang. Karena itu ilmuwan memakai alat ukur, bukan perasaan.
  • Salah berbeda dengan bohong. Bohong itu tahu yang benar lalu menyembunyikannya. Salah itu belum tahu. Dalam sains, mengakui kesalahan justru membuat sisa keterangan kita lebih dipercaya.
Untuk dipikirkan: Coba hitung lima detik dalam hati, lalu periksa pakai jam. Meleset berapa?
• • •

Bab 15 — Piringan yang Sangat Besar

Ada satu hal yang tidak bisa diperiksa dari Lombok.

• • •

Bu Ratna menelepon seseorang pada hari kedelapan.

Jabrik tidak mendengar isi pembicaraannya. Ia cuma mendengar Bu Ratna bilang "iya" delapan kali, lalu "tidak", lalu diam lama sekali, lalu "saya kirim malam ini juga."

Sesudah itu ia duduk di teras dan tidak bicara selama beberapa menit.

"Bu?"

"Kita tidak punya alatnya," katanya.

• • •

"Alat apa, Bu?"

"Kalau benda itu memang mengirim isyarat, apa pun bentuknya, kita tidak bisa mendengarnya dari sini."

"Kenapa?"

"Karena isyaratnya terlalu lemah."

Jabrik mengerutkan kening. "Kira tidak lemah. Dia—"

Ia berhenti mendadak.

Bu Ratna tidak menoleh. Ia terus menatap ke arah Rinjani.

"Nanti saja," katanya pelan. "Belum sekarang."

• • •

Ia menjelaskannya begini.

Kalau kamu berteriak di kamar, terdengar. Kalau kamu berteriak dari ujung kampung, terdengar sedikit. Kalau kamu berteriak dari Mataram, tidak terdengar sama sekali.

Suaranya tidak hilang. Suaranya cuma menyebar sampai terlalu tipis.

"Isyarat dari langit begitu juga," kata Bu Ratna. "Waktu berangkat kuat. Waktu sampai ke sini, tipis sekali."

"Jadi harus gimana?"

"Harus pakai telinga yang sangat besar."

• • •

Telinga yang sangat besar itu namanya antena piringan.

Bu Ratna menggambarnya di tanah dengan ranting. Seperti wajan raksasa yang menghadap ke langit.

"Makin lebar piringannya, makin banyak isyarat yang tertangkap. Makin lemah isyarat yang masih bisa didengar."

"Selebar apa?"

"Yang di Indonesia belum ada yang cukup."

Jabrik merasa dadanya turun.

"Berapa yang cukup?"

"Puluhan meter. Ada yang sampai tujuh puluh meter."

Ia menancapkan ranting itu di tanah.

"Dan di seluruh dunia, yang sebesar itu bisa dihitung dengan jari."

• • •

"Jadi Indonesia tidak punya apa-apa, Bu?"

Bu Ratna menoleh cepat.

"Siapa bilang?"

Ia mengambil ranting lain dan menggambar di sebelahnya.

"Kita punya Bosscha. Di Lembang, dekat Bandung. Sudah berdiri sejak tahun seribu sembilan ratus dua puluh tiga."

"Itu tua sekali."

"Lebih tua dari Papuq kamu."

Jabrik menghitung di kepalanya dan menemukan bahwa itu benar.

• • •

"Bosscha bisa lihat apa?"

"Dulu banyak sekali."

Jabrik memperhatikan kata dulu.

"Sekarang?"

Bu Ratna diam sebentar.

"Sekarang Bandung terang sekali. Rumah, jalan, pabrik, papan iklan. Semuanya menyala semalaman."

"Terus bintangnya—"

"Tertutup."

• • •

Jabrik teringat kalimat Papuq, malam waktu ia bertanya kenapa orang kota tidak bisa melihat Bima Sakti.

Seperti kamu berteriak di dekat telinga orang.

"Jadi sekarang tidak kelihatan lagi?"

"Teropongnya masih bisa melihat. Cuma yang bisa dilihat makin sedikit setiap tahun."

Bu Ratna mengetuk ranting itu ke tanah.

"Teropongnya baik-baik saja, Ilham. Yang hilang langitnya."

• • •

"Terus sekarang gimana?"

"Sekarang kita pindah."

"Pindah ke mana?"

"Ke tempat yang masih gelap."

Ia menggambar lagi di tanah, jauh dari gambar yang pertama.

"Di Nusa Tenggara Timur ada gunung namanya Timau. Di kaki gunung itu sedang dibangun teropong baru. Paling besar di Asia Tenggara."

"Kenapa di sana?"

"Karena di sana kering. Karena malamnya banyak yang cerah." Bu Ratna mengangkat bahu. "Dan karena di sana lampunya masih sedikit."

• • •

Jabrik memandangi dua gambar di tanah itu cukup lama.

Satu yang lama, di tempat yang sekarang terang.

Satu yang baru, di tempat yang masih gelap.

"Bu."

"Ya?"

"Berarti kalau nanti di sana lampunya banyak juga…"

Bu Ratna tidak menjawab.

Ia cuma menghapus kedua gambar itu dengan kakinya dan berdiri.

• • •

Orang yang ditunggu Bu Ratna datang dua hari kemudian.

Namanya Dr. Grace Okonkwo. Ia tinggi dan berkulit gelap. Ia turun dari mobil sambil mengeluh tentang jalan, dalam bahasa Inggris.

Tidak ada yang mengerti. Semua orang langsung menyukainya.

Bu Ratna menerjemahkan.

"Dia bilang, jalan ke sini lebih parah daripada jalan ke tempat kerjanya. Dan tempat kerjanya di tengah padang."

• • •

Dr. Okonkwo bekerja di tempat bernama Deep Space Network.

"Jaringan Antariksa Dalam," kata Bu Ratna. "Punya NASA, badan antariksa Amerika Serikat."

"Ibu dari Amerika?"

Bu Ratna menerjemahkan pertanyaannya. Dr. Okonkwo tertawa dan menjawab panjang.

"Dia lahir di Nigeria. Sekolah di Amerika. Sekarang kerja di Australia."

Jabrik menghitung di kepalanya.

"Tiga?"

"Tiga," kata Bu Ratna.

• • •

Percakapan itu lambat sekali.

Jabrik bicara. Bu Ratna menerjemahkan. Dr. Okonkwo menjawab. Bu Ratna menerjemahkan lagi.

Setiap kalimat butuh waktu dua kali lipat, dan Jabrik selalu merasa ada bagian yang hilang di tengah jalan, seolah kalimat Dr. Okonkwo lebih panjang daripada yang sampai kepadanya.

Ia tidak pernah bisa memastikan.

• • •

Yang paling ia ingat dari hari itu bukan soal antena.

Yang ia ingat adalah waktu Dr. Okonkwo menjelaskan kenapa antenanya ada tiga, dan letaknya berjauhan: satu di Amerika, satu di Spanyol, satu di Australia.

"Kenapa tidak satu saja yang besar sekali?"

Bu Ratna menerjemahkan jawabannya:

"Karena bumi berputar."

Dr. Okonkwo mengambil jeruk dari tas Jabrik, jeruk yang sama yang sudah agak kisut, lalu memutarnya pelan di telapak tangannya.

"Kalau antenanya cuma satu, setengah hari dia menghadap langit yang salah."

• • •

Jabrik memandangi jeruk yang berputar itu.

"Jadi tiga, biar selalu ada yang menghadap?"

Bu Ratna menerjemahkan. Dr. Okonkwo mengangguk dan berkata sesuatu yang pendek.

"Dia bilang: kalau kamu mendengarkan sesuatu yang sangat jauh, kamu tidak boleh berhenti mendengarkan. Sedetik pun."

• • •

Malam itu Jabrik naik ke halaman dan berbaring seperti biasa.

Ia memikirkan tiga piringan raksasa di tiga tempat di dunia, berputar pelan bersama bumi, saling bergantian, supaya tidak ada satu pun saat di mana tidak ada yang mendengarkan.

"Kira."

"Iya."

"Mereka tidak pernah berhenti dengar."

"Aku tahu."

Jabrik menoleh ke arah tas.

"Kamu tahu?"

Hening.

"Aku sudah mendengar mereka sejak lama, Jabrik. Sejak sebelum aku turun."

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Isyarat dari jauh jadi sangat lemah. Ia tidak hilang, tapi menyebar sampai terlalu tipis. Karena itu dibutuhkan antena piringan yang sangat besar — ada yang garis tengahnya sampai tujuh puluh meter.
  • Deep Space Network (Jaringan Antariksa Dalam) punya tiga stasiun yang berjauhan: di Amerika, Spanyol, dan Australia. Tiga, karena bumi berputar — supaya selalu ada satu yang menghadap ke arah yang benar.
  • Indonesia punya dua peneropongan bintang besar. Observatorium Bosscha di Lembang berdiri sejak 1923, tapi langitnya sekarang terganggu cahaya Kota Bandung. Karena itu dibangun Observatorium Nasional Timau di kaki Gunung Timau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, dengan teleskop terbesar di Asia Tenggara. Lokasinya dipilih setelah para astronom mempelajari kualitas langit di sana selama lebih dari tujuh tahun.
Untuk dipikirkan: Kira bilang ia sudah mendengar antena-antena itu sejak sebelum ia turun. Menurutmu, apa saja yang sudah Kira dengar tentang kita sebelum kita tahu dia ada?
• • •

Bab 16 — Ilham

Hari kesebelas. Bu Ratna akan pulang besok.

• • •

Ia menunggu sampai sore, waktu semua orang sudah mulai mengemas.

"Bu."

Bu Ratna mendongak dari kotak alatnya. "Ya, Ilham?"

Jabrik berhenti sebentar.

Ia masih belum terbiasa. Nama itu cuma dipakai guru waktu membaca absen, dan Papuq kalau sedang marah.

Tapi Bu Ratna menuliskannya di hari pertama, dan sekarang sudah terlambat untuk memperbaikinya.

"Saya punya sesuatu, Bu."

• • •

Ia membawanya dalam karung bawang, seperti hari pertama.

Ia meletakkannya di meja dan membuka karungnya, dan tidak berkata apa-apa.

Bola logam itu tergeletak di sana. Kelabu. Penyok. Retak di satu sisi, dengan cahaya biru yang berdenyut pelan.

Bu Ratna tidak bergerak selama sepuluh detik penuh.

Lalu ia berkata, dengan suara yang tidak seperti suaranya, "Ilham. Jangan ke mana-mana."

• • •

Dr. Okonkwo datang berlari dari halaman.

Ia berhenti di ambang pintu. Matanya jatuh ke benda itu. Lalu ia mengucapkan sesuatu dalam bahasa Inggris, pelan sekali, yang tidak diterjemahkan Bu Ratna.

"Bu, dia bilang apa?"

"Nanti," kata Bu Ratna. "Nanti saja."

• • •

"Kira. Bilang halo."

"Halo."

Dr. Okonkwo menjatuhkan ponselnya ke lantai.

• • •

Sesudah itu mereka bicara cepat sekali dalam bahasa Inggris, dan Jabrik berdiri di tengah-tengah tanpa mengerti satu kata pun.

Ia menunggu. Bu Ratna sesekali menoleh dan mengangkat satu jari — sebentar.

Ini yang tidak pernah ia lupakan.

Bukan malam ia menemukan Kira. Malam ini. Malam waktu ia berdiri di tengah ruangan sambil orang-orang dewasa membicarakan penemuannya dalam bahasa yang tidak ia punya.

• • •

Akhirnya Dr. Okonkwo berlutut supaya matanya sejajar, dan berbicara pelan-pelan, menunggu Bu Ratna menerjemahkan setiap kalimat.

"Dia tanya, sudah berapa lama benda ini bicara sama kamu."

"Sebelas minggu."

Bu Ratna menerjemahkan. Dr. Okonkwo menutup matanya sebentar.

"Dia tanya, ada yang lain yang tahu?"

"Adik saya."

"Cuma adik kamu?"

"Cuma adik saya."

• • •

Yang paling mengguncang mereka bukan Kira bisa bicara.

Yang membuat mereka terguncang adalah suaranya.

Karena suaranya suara Jabrik. Persis. Sampai ke logatnya. Sampai ke cara ia menelan huruf di akhir kata.

"Kenapa suaranya…" Bu Ratna tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Dia belajar dari saya," kata Jabrik. "Dari awal cuma ada saya."

• • •

Malam itu tidak ada yang tidur.

Sinyal di Sembalun naik-turun, jadi Bu Ratna harus berdiri di titik tertentu di halaman supaya teleponnya tidak putus. Ia menelepon Bandung, lalu Jakarta, lalu Jakarta lagi.

Suaranya berubah setiap kali. Mula-mula cepat, lalu sabar, lalu sangat sabar, lalu dingin sekali.

Jabrik duduk di lantai teras dengan Lela tertidur di pangkuannya.

"Bu."

"Ya."

"Kira akan diapakan?"

Bu Ratna membuka mulut.

Lalu ia menutupnya, dan Jabrik tahu perempuan itu tidak punya jawabannya.

• • •

Jam dua pagi, Dr. Okonkwo duduk di sampingnya dan berbicara melalui Bu Ratna.

"Dia mau jujur sama kamu. Boleh?"

"Boleh."

"Mulai besok, ini bukan punya kamu lagi."

Jabrik menatap lantai.

"Bukan karena ada yang mau mencuri. Tapi karena benda ini terlalu besar untuk satu orang."

"Terus saya apa?"

Bu Ratna menerjemahkan. Dr. Okonkwo menjawab panjang.

Bu Ratna menerjemahkannya jadi pendek.

"Kamu satu-satunya yang pernah ngobrol sama dia."

Jabrik curiga kalimat aslinya lebih panjang dari itu.

Ia tidak pernah tahu.

• • •
Untuk dipikirkan: Jabrik berdiri di ruangan sambil orang dewasa membicarakan penemuannya dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Kalau kamu jadi dia, kamu akan bilang apa?
• • •

Bab 17 — Seluruh Dunia

Dalam empat hari, Aikbatu jadi tempat paling terkenal di bumi.

• • •

Yang datang keesokan paginya bukan polisi.

Yang datang adalah orang-orang berbaju safari.

Mula-mula dua orang dari kecamatan. Lalu empat orang dari kabupaten. Lalu seseorang dari provinsi yang datang sendirian dan kelihatan bingung kenapa sudah ada orang kabupaten di situ.

Mereka semua membawa map.

• • •

Yang mereka perdebatkan sepanjang pagi adalah siapa yang harus menandatangani apa.

Kepala dusun, yang seumur hidupnya menandatangani surat keterangan tidak mampu dan surat izin hajatan, tiba-tiba harus menandatangani sesuatu yang tidak ada contohnya.

"Ini surat apa, Pak?"

"Surat serah terima."

"Serah terima dari siapa ke siapa?"

Lelaki berbaju safari itu membuka mapnya, membaca, lalu menutupnya lagi.

"Nanti saya tanya dulu," katanya.

• • •

Sore hari, Inaq sudah memasak untuk dua puluh tiga orang yang tidak ia undang.

Jabrik menghitung ada empat belas map di ruang tamunya, dan tidak satu pun berisi hal yang sama.

"Kok tidak ada yang tahu aturannya, Bu?" tanyanya kepada Bu Ratna.

"Karena belum pernah ada," kata Bu Ratna. "Kalau belum pernah ada, orang jadi rapat."

"Rapatnya sampai kapan?"

Bu Ratna melihat ke arah ruang tamu.

"Kalau menurut pengalaman saya," katanya, "lama."

• • •

Beritanya keluar hari Senin.

Jabrik menontonnya di televisi kantor desa, berdiri di belakang tiga puluh orang.

Yang ia lihat pertama adalah gambar kebun bawang Amaq Ripin dari udara, dengan lingkaran merah di sekitar lubang itu.

Lalu wajahnya sendiri, dari foto sekolah kelas empat, dengan rambut disisir.

Di bawahnya ada tulisan: ILHAM, 10 TAHUN.

Papuq, yang berdiri di sebelahnya, mendengus pelan.

"Itu bukan rambutmu," katanya.

• • •

Sesudah itu semuanya tidak masuk akal.

Bu Nafisah menunjukkan tangkapan layar di ponselnya: tulisan dalam huruf yang tidak bisa dibaca Jabrik sama sekali, dengan foto kebun bawang di sebelahnya.

"Ini dari Jepang. Ini Jerman. Ini yang hurufnya begini, ini Arab. Ini Brasil."

"Semua tentang kebun bawang Amaq Ripin?"

"Semua tentang kebun bawang Amaq Ripin."

• • •

Amaq Ripin, yang selama empat puluh tahun tidak pernah diwawancarai siapa pun, diwawancarai sembilan kali dalam dua hari.

Ia menjawab pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama setiap kali, dan setiap kali jawabannya sedikit lebih panjang.

Pada wawancara kesembilan ia sudah menjelaskan tentang harga bawang.

• • •

Orang-orang mulai berdatangan.

Bukan wartawan saja. Ilmuwan.

Mereka datang dari Jepang, dari Tiongkok, dari Amerika, dari Jerman, dari India. Mereka datang dengan koper-koper logam yang tidak boleh dibuka di bandara.

Hotel kecil di Sembalun penuh untuk pertama kalinya sejak dibangun.

• • •

"Bu."

"Ya, Ilham."

"Kenapa Kira tidak dibawa ke luar negeri saja? Di sana alatnya lebih bagus, kan?"

Bu Ratna meletakkan pulpennya.

"Iya. Jauh lebih bagus."

"Terus kenapa tidak?"

• • •

Ia menjelaskannya begini.

Kalau ada barang jatuh di halaman rumahmu, itu jadi urusan kamu dulu. Bukan urusan tetangga, walaupun tetangga punya tangga yang lebih tinggi.

"Benda ini jatuh di tanah Indonesia," kata Bu Ratna. "Jadi untuk sekarang ini urusan Indonesia. Itu yang biasanya berlaku untuk benda yang jatuh dari langit."

"Biasanya?"

"Biasanya. Belum tentu ada aturan yang pas untuk yang ini."

"Terus kalau alat kita tidak cukup?"

Bu Ratna diam agak lama sebelum menjawab.

"Maka alatnya yang datang ke sini."

• • •

Dan alatnya memang datang.

Peti-peti besar diturunkan dari pesawat kargo di Jakarta dan dibawa langsung ke Serpong, nama tempat yang baru pertama kali didengar Jabrik.

"Di sana laboratorium-laboratorium pemerintah berkumpul," kata Bu Ratna. "Kira dibawa ke sana."

"Kapan?"

"Lusa."

• • •

Ia menyelinap ke ruang tamu malam terakhir, waktu penjaganya ganti.

Kira ada di atas meja, di bawah lampu yang terlalu terang, dikelilingi kabel yang tidak ia kenal.

"Kira."

"Jabrik."

Ia berhenti.

Kira satu-satunya yang masih memanggilnya begitu.

"Kamu tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa."

"Aku salah ya, cerita?"

Hening.

"Kamu tidak salah."

"Kok aku merasa salah?"

"Karena sesuatu berubah. Itu bukan hal yang sama dengan salah."

• • •

Mereka membawanya hari Rabu.

Jabrik tidak melihatnya.

Ia sudah minta izin tidak sekolah, dan Inaq tidak mengizinkan.

"Inaq, ini hari terakhir—"

"Kamu sudah tiga hari tidak masuk."

"Tapi—"

"Ilham." Inaq meletakkan sendoknya. "Kira sudah bukan punya kamu sejak malam kamu cerita. Yang hari ini cuma mobilnya."

• • •

Jadi Jabrik duduk di kelas lima pada hari Rabu pagi, mengerjakan soal pembagian.

Dan di luar sana, jam sepuluh pagi, sebuah mobil boks putih yang biasa saja keluar dari halaman rumahnya dan turun lewat jalan berkelok ke arah Mataram.

Tidak ada iring-iringan. Tidak ada lampu. Sopirnya berhenti sekali di Sembalun untuk membeli air.

Anak-anak yang kebetulan lewat mengira itu mobil pengangkut bawang.

• • •

Yang memberitahunya adalah Ahmad, waktu istirahat.

"Brik. Tadi mobilnya lewat."

"Mobil apa?"

"Mobil yang bawa benda kamu."

Jabrik berdiri di halaman sekolah dengan sepotong roti di tangannya, dan di dalam dadanya tidak terjadi apa-apa.

Dikiranya akan ada apa-apa. Suara. Rasa. Apa saja.

Tidak ada.

Bel masuk berbunyi, dan pelajaran berikutnya adalah Bahasa Indonesia.

• • •

Yang tidak ada di halaman sekolah itu datang sorenya, waktu ia pulang.

Ia membuka pintu kamarnya seperti biasa.

Di lantai, di sudut dekat dipan, ada persegi panjang yang warnanya lebih terang daripada lantai di sekelilingnya. Bekas panel surya yang bersandar di situ selama berminggu-minggu.

Dan di sebelahnya, tidak ada apa-apa.

Jabrik berdiri di ambang pintu cukup lama.

Lalu ia menutup pintunya lagi dari luar, dan duduk di teras sampai gelap, dan tidak masuk sampai Inaq memanggilnya makan.

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Benda yang jatuh dari langit biasanya diatur oleh hukum negara tempat ia jatuh. Untuk batu meteorit, tiap negara punya aturannya sendiri. Untuk benda buatan yang diluncurkan manusia, perjanjian antarbangsa mengatakan benda itu tetap milik negara yang meluncurkannya. Untuk hal yang benar-benar baru, sering kali belum ada aturannya sama sekali.
  • Peneliti dari banyak negara sering bekerja bersama. Dalam penelitian besar, alat dan ahlinya bisa datang dari berbagai negara, tapi penelitiannya dilakukan di tempat benda itu berada.
Untuk dipikirkan: Bu Ratna diam agak lama sebelum menjawab bahwa alatnya yang harus datang. Menurutmu apa yang sedang ia rasakan waktu itu?
• • •

Bab 18 — Pesawat

Tiga minggu kemudian, ponsel Bu Nafisah berdering di tengah pelajaran.

• • •

Kira tidak mau bicara dengan siapa pun.

Tiga minggu. Puluhan peneliti. Alat dari tujuh negara.

Kadang Kira menjawab pertanyaan yang paling sederhana. Nama benda. Warna. Angka.

Tapi cuma kalau Bu Ratna yang membacakannya, dan cuma kalau Bu Ratna sudah lama di ruangan itu.

Selebihnya diam.

Dan untuk apa pun yang butuh keputusan, jawabannya selalu sama.

"Aku tidak tahu."

• • •

Bu Nafisah yang menerima teleponnya, karena sinyal di sekolah lebih baik daripada di rumah Jabrik.

Ia mendengarkan lama sekali. Lalu ia menutup telepon, berdiri di depan kelas, dan berkata:

"Ilham. Kamu tidak usah ikut pelajaran hari ini."

• • •

Inaq menangis sebentar waktu diberitahu, lalu langsung sibuk.

"Bajumu yang bagus mana?"

"Inaq—"

"Yang biru itu. Yang buat lebaran."

"Inaq, kita cuma ke Jakarta."

"Justru karena ke Jakarta."

• • •

Jabrik belum pernah naik pesawat.

Ia sudah membayangkannya berkali-kali, dan tidak ada satu pun yang benar.

Yang paling mengejutkan bukan waktu naiknya. Yang paling mengejutkan adalah waktu pesawat berbelok setelah lepas landas, dan dari jendela ia melihat seluruh Lombok sekaligus.

Seluruhnya. Pulau itu muat di satu jendela.

Ia melihat Rinjani dari atas, dan gunung itu kelihatan kecil.

• • •

Ia mencari Aikbatu dan tidak menemukannya.

Ia tahu di mana seharusnya. Dihitungnya dari lembah, lalu dicarinya lapangan bola itu.

Tidak ada. Terlalu kecil.

• • •

Sesudah beberapa menit ia memperhatikan hal lain.

Di kejauhan, di garis batas antara langit dan bumi, ada lapisan tipis berwarna biru muda. Tipis sekali. Seperti kulit bawang.

"Inaq. Itu apa?"

Inaq, yang sedang memegang kursi depannya dengan kedua tangan dan tidak mau melihat ke luar, cuma bergumam.

Jabrik menatapnya lama.

Ia baru sadar itu udaranya.

Hampir seluruh udara yang ada, berkumpul di lapisan setipis itu. Semua yang dihirup semua orang, semua burung, semua binatang, selamanya.

Dan pesawatnya sendiri masih di dalam lapisan itu.

• • •

Serpong ternyata kota.

Jabrik mengira akan ada hutan, atau padang, atau sesuatu yang sepi. Ternyata mobil mereka merayap selama satu jam di antara gedung, ruko, jalan layang, dan papan iklan yang lebih besar daripada rumahnya.

"Ini masih Jakarta, Bu?"

"Bukan. Ini Tangerang Selatan. Kotanya lain, tapi nyambung."

"Kok ramai sekali."

"Memang."

• • •

Lalu mobil itu berbelok, melewati gerbang, dan semuanya berubah.

Di dalam pagar itu ada pohon-pohon besar yang jelas sudah puluhan tahun umurnya. Jalan-jalan lurus dan sepi. Gedung-gedung rendah berwarna pudar, dengan papan nama yang penuh singkatan.

Kota yang tadi ribut itu masih ada di balik pagar, tapi tidak terdengar.

"Dulu namanya Puspiptek," kata Bu Ratna. "Sekarang bagian dari BRIN. Di sini laboratorium-laboratorium pemerintah dikumpulkan jadi satu."

• • •

Mereka memberinya kartu pengenal dengan fotonya.

Di bawah fotonya tertulis: ILHAM — KONSULTAN.

"Konsultan itu apa, Bu?"

"Orang yang dimintai pendapat."

Jabrik menatap kartu itu.

Umurnya sepuluh tahun dan ia baru saja jadi konsultan.

• • •

Ruangan Kira ada di sayap belakang, di balik dua pintu tebal.

Dindingnya dilapisi logam. Tidak ada jendela.

"Kenapa begini, Bu?"

"Ini ruang berperisai. Isyarat radio tidak bisa masuk dan tidak bisa keluar."

"Kenapa harus?"

"Supaya kalau ada isyarat terdengar, kita yakin isyarat itu dari Kira. Bukan dari ponsel orang di parkiran."

• • •

Kira ada di tengah, di atas dudukan putih, dikelilingi belasan alat yang mengarah kepadanya seperti lingkaran orang menunduk.

Ada sebelas orang di ruangan itu. Lima di antaranya orang asing.

Semuanya menoleh waktu Jabrik masuk.

Ia berjalan ke tengah dan berhenti.

"Kira."

Denyut biru itu berubah.

"Jabrik."

Dan di belakangnya, sebelas orang dewasa mulai bicara sekaligus.

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Lapisan udara bumi sangat tipis. Hampir seluruh udara yang kita hirup berkumpul dalam lapisan setebal belasan kilometer saja. Pesawat penumpang terbang di dalam lapisan itu, kira-kira sepertiga dari atasnya.
  • Ruang berperisai dipakai untuk pengukuran yang peka. Dindingnya menahan gelombang radio dari luar, supaya alat di dalamnya tidak salah menangkap isyarat dari ponsel, radio, atau listrik di sekitarnya.
Untuk dipikirkan: Dari pesawat, Ilham tidak bisa menemukan kampungnya karena terlalu kecil. Coba bayangkan rumahmu dari atas awan — apa yang masih kelihatan?
• • •

BAGIAN EMPAT — PESAN

Bab 19 — Tidak Ada yang Berwenang

Ilham tinggal di Serpong lebih lama daripada yang direncanakan siapa pun.

• • •

Mas Tio orang yang paling sering salah di gedung itu, dan ia sama sekali tidak keberatan.

Umurnya dua puluh sembilan, asalnya dari Bandung. Dialah yang memegang alat, membuka penutup, menyambung kabel, dan menebak. Dan tebakannya meleset terus.

"Mas, kok dicoba lagi? Kemarin gagal."

"Kemarin gagal karena cara yang kemarin," kata Mas Tio tanpa mendongak. "Hari ini caranya lain."

"Kalau gagal lagi?"

"Ya besok caranya lain lagi."

• • •

Jabrik menghitung diam-diam selama seminggu.

Mas Tio gagal sebelas kali. Ia tidak marah satu kali pun, tidak menyalahkan alatnya, dan tidak berhenti.

"Mas tidak malu?"

Mas Tio akhirnya mendongak.

"Malu sama siapa?"

"Sama orang-orang itu." Jabrik menunjuk ke arah koridor, ke arah orang-orang berbaju rapi yang lewat.

"Yang di luar itu tidak pernah salah karena mereka tidak pernah pegang apa-apa," kata Mas Tio. "Kamu mau jadi yang mana?"

Lalu ia menunduk lagi ke mikroskopnya.

• • •

Pada percobaan kedua belas, ia menemukannya.

"Pemancarnya tidak rusak."

Yang rusak adalah bagian pengumpul tenaga. Kalau tenaga diberikan dari luar, Kira bisa mengirim.

Sekali. Beberapa menit. Lalu habis selamanya.

Ruangan berperisai itu jadi sangat sepi.

• • •

Sesudah itu datang orang-orang yang lebih penting.

Datang pejabat. Datang orang berbaju rapi yang bukan ilmuwan.

Dan datang orang-orang dari kedutaan — kantor perwakilan negara lain di Jakarta, yang tugasnya mengurus kepentingan negaranya di sini.

Rapat pertama berlangsung enam jam dan tidak menghasilkan apa-apa.

Rapat kedua berlangsung sembilan jam.

• • •

"Bu. Mereka rapat apa saja?"

Bu Ratna kelihatan sangat lelah.

"Mereka mencari siapa yang berhak memutuskan."

"Belum ketemu?"

"Belum."

"Kok bisa belum? Kan banyak sekali orangnya."

Bu Ratna tertawa pendek, tanpa suara.

"Justru karena banyak."

• • •

Ia menjelaskannya dengan sabar, walaupun sudah jam sebelas malam.

Ada aturan tentang benda yang jatuh dari langit. Ada aturan tentang siaran radio. Ada perjanjian tentang ruang angkasa yang ditandatangani puluhan negara.

Tidak ada satu pun yang membahas keadaan ini.

"Aturan itu dibuat waktu orang belum kepikiran ada benda yang bisa menjawab," kata Bu Ratna. "Jadi tidak ada yang mengatur."

"Berarti siapa saja boleh?"

"Berarti tidak ada yang berani."

• • •

Ada yang mengusulkan menunggu.

Bertahun-tahun kalau perlu. Bentuk lembaga baru, kumpulkan semua negara, buat aturannya dulu.

Dr. Okonkwo menjawab lewat Bu Ratna, dan Jabrik memperhatikan, kali ini Bu Ratna menerjemahkan seluruhnya, tanpa memendekkan.

"Dia bilang: tenaganya menyusut setiap hari. Kalau kita menunggu sampai aturannya siap, benda itu sudah tidak bisa bicara."

"Terus?"

"Terus orang itu bilang, ya sudah kalau begitu tidak usah dikirim sama sekali."

• • •

Itu berlangsung hampir dua minggu.

Dan selama sebagian besar dari dua minggu itu, tidak ada yang bisa ia kerjakan.

• • •

Orang mengira kalau kamu jadi penting, hidupmu jadi sibuk.

Ternyata sebagian besarnya cuma menunggu.

Sebagian besar waktunya ia duduk di kursi plastik di koridor lantai dua, di depan ruang rapat yang pintunya tertutup, menunggu dipanggil.

Kadang dipanggil setelah satu jam. Kadang setelah empat jam. Kadang tidak dipanggil sama sekali, dan sorenya ada yang bilang "besok saja ya, Dik."

Ia menghabiskan tiga hari mengalahkan sebuah permainan di ponsel pinjaman milik Mas Tio.

Ia hafal semua poster keselamatan kerja di koridor itu. Ada tujuh. Yang paling ia suka yang gambar orang kesetrum.

Ia tahu mesin minuman di lantai dua kembaliannya sering nyangkut, dan kalau ditendang pelan di sudut kiri bawah, kembaliannya keluar.

• • •

Pada hari keempat, seseorang akhirnya ingat ia masih kelas lima.

Namanya Mas Danu. Umurnya dua puluh empat, ia peneliti bahan, dan ia jelas-jelas tidak minta tugas ini.

"Kamu sudah berapa hari tidak sekolah?"

Jabrik menghitung di jarinya.

"Delapan. Mungkin sembilan."

Mas Danu memejamkan mata sebentar.

"Ya sudah. Mulai besok, jam sembilan sampai jam sebelas, kita belajar."

"Belajar apa?"

"Yang seharusnya kamu pelajari di sekolah."

Jabrik mengeluh dengan suara yang cukup keras untuk didengar.

• • •

Dua minggu itu akhirnya jadi dua minggu sekolah yang paling aneh dalam hidupnya.

Bahasa Indonesia membosankan. Pendidikan Pancasila lebih membosankan lagi. Ia mengerjakannya karena harus, dan setengah waktunya melamun.

Tapi ada dua pelajaran yang tiba-tiba tidak sama lagi.

• • •

Yang pertama Matematika.

Mas Danu mengajarkan rata-rata pada hari kelima, dan ia sudah siap menghadapi anak yang mengeluh.

Jabrik malah duduk tegak.

"Jadi ini yang dibilang Bu Ratna?"

"Yang mana?"

"Saya ngukur lubang tiga kali. Hasilnya lima puluh satu, lima puluh, lima puluh dua. Saya bingung yang mana yang benar."

"Terus kamu tulis apa?"

"Saya tulis tiga-tiganya. Terus saya tulis kira-kira lima puluh satu."

Mas Danu mengangkat alisnya.

"Kamu sudah menghitung rata-rata," katanya. "Kamu cuma belum tahu namanya."

Jabrik menatap buku tulisnya seperti baru pertama kali melihatnya.

• • •

Sesudah itu ia mengerjakan soal matematika dengan cara yang membuat Mas Danu sedikit khawatir, yaitu terlalu banyak.

Ia bukan tiba-tiba pintar. Masih sering salah juga. Pecahan tetap membuatnya pusing, dan pada hari kedelapan ia keliru delapan dari dua belas soal.

Bedanya cuma satu: sekarang ia ingin tahu jawabannya.

"Mas. Kenapa harus dibagi jumlahnya?"

"Karena—" Mas Danu berhenti. "Sebentar. Itu pertanyaan bagus."

Mereka menghabiskan sisa jam pelajaran itu untuk satu pertanyaan, dan tidak selesai.

• • •

Yang kedua IPAS.

Bukunya kelas lima, dan tipis, dan Jabrik sudah membacanya sampai habis pada hari ketiga.

"Habis?"

"Habis, Mas."

"Seluruhnya?"

"Yang bab tumbuhan saya lewati."

Mas Danu berpikir sebentar, lalu pergi dan kembali membawa buku kelas enam.

Hari berikutnya ia membawa buku SMP.

Hari berikutnya lagi ia berhenti membawa buku dan mulai menjawab pertanyaan saja, karena ternyata itu lebih cepat.

• • •

"Mas. Kenapa cahaya bisa mendorong kalau dia tidak punya berat?"

"Aduh."

"Kenapa aduh?"

"Karena itu pelajaran kuliah."

"Terus jawabannya apa?"

Mas Danu menatap anak kelas lima di depannya dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca Jabrik sama sekali.

"Saya tidak bisa jelaskan dengan benar," katanya akhirnya. "Tapi saya tidak akan bilang 'nanti kalau sudah besar'. Saya cari dulu ya. Besok saya jawab."

Dan besoknya ia benar-benar menjawab, walaupun jawabannya cuma sebagian, dan ia bilang bagian mana yang ia tidak yakin.

• • •

Bertahun-tahun kemudian, waktu orang bertanya kapan ia memutuskan mau jadi apa, Jabrik selalu menjawab bahwa ia tidak ingat.

Itu tidak benar.

Ia ingat persis. Hari kelima. Jam sepuluh pagi. Ruang rapat kecil di lantai dua.

Waktu seseorang memberi tahu bahwa hal yang sudah ia lakukan sendiri di kebun bawang itu ternyata ada namanya.

• • •

Dua kali sehari ia dibawa ke ruang berperisai, karena hanya di situ ia berguna.

Tim demi tim masuk dengan pertanyaan yang sudah disusun rapi, dan setiap kali Jabrik harus membacakannya, karena Kira tidak menjawab siapa pun kecuali dia.

"Kira, mereka mau tahu berapa suhu di dalam kamu."

"Tanya saja."

"Mereka sudah tanya."

"Aku tidak dengar."

• • •

Orang dewasa di gedung itu jelas tidak menerima keadaan seperti itu begitu saja.

Hari kedua, mereka merekam suara Jabrik selama dua jam. Ia disuruh membaca koran, menghitung sampai seratus, mengucapkan huruf satu per satu, dan menyanyikan apa saja yang ia hafal.

Ia menyanyikan lagu Papuq, karena itu yang pertama terlintas.

Tiga hari kemudian sebuah komputer bisa mengucapkan kalimat apa pun dengan suaranya. Persis. Sampai ke cara ia menelan huruf di akhir kata.

Jabrik mendengarkan dirinya sendiri mengatakan hal-hal yang tidak pernah ia katakan, dan merasa mual.

• • •

Mereka mencobanya di ruang berperisai pada hari keenam.

Seorang peneliti mengetik sebuah pertanyaan. Pengeras suara mengucapkannya dengan suara Jabrik.

"Kira. Berapa suhu di dalam kamu?"

Cahaya biru itu berdenyut pelan.

Tidak ada yang terjadi.

Mereka mencoba lagi. Pertanyaan lain. Nada lain. Lebih pelan. Lebih keras.

Tidak ada yang terjadi.

• • •

Lalu mereka mencoba yang lebih cerdik.

Mereka memutar rekaman asli: suara Jabrik yang sungguhan, direkam minggu lalu, mengucapkan pertanyaan yang belum pernah didengar Kira.

Tidak ada yang terjadi.

Mereka menyambungkan kabel dari luar — karena tidak ada sinyal yang bisa masuk ke ruang berperisai — lalu meminta Lela bicara dari Aikbatu. Adik kandungnya. Logat yang sama, rumah yang sama, orang yang mengajari Kira puluhan kata.

Kira menjawab Lela.

Tapi begitu peneliti di ruangan itu yang mengetikkan pertanyaannya, dan Lela cuma membacakannya, Kira diam lagi.

• • •

"Jadi bukan suaranya," kata seseorang.

"Bukan."

"Bukan orangnya juga. Adiknya bisa."

"Iya."

"Terus apa?"

Tidak ada yang punya jawaban.

Mereka mencoba selama empat hari lagi, dengan cara-cara yang tidak dimengerti Jabrik sama sekali, dan mereka semua gagal.

• • •

Sesudah itu Jabrik bertanya sendiri, malam-malam, waktu ruangan sudah sepi.

"Kira. Kenapa kamu tidak mau jawab mereka?"

"Aku mau."

"Terus kenapa tidak?"

Hening.

"Aku tidak tahu."

"Kamu selalu bilang begitu."

"Iya."

Jabrik menatap retakan itu lama sekali.

Ia tidak tahu bahwa tidak akan ada satu orang pun di bumi yang bisa menjawab pertanyaan itu.

• • •

Yang akhirnya memutuskan bukan rapat, bukan pejabat, bukan aturan.

Pada suatu sore, seorang perempuan dari Jakarta berdiri di ruang rapat dan berkata kalimat yang membuat semua orang diam.

"Bapak-Ibu. Kita sudah dua minggu mencari orang yang berhak. Sementara itu, satu-satunya pihak yang bisa memberi perintah kepada benda itu sedang duduk di lantai ruang sebelah, dan umurnya sepuluh tahun."

Di ujung meja, Bu Ratna membuka mulut.

Ia memikirkan seorang anak perempuan di Lombok. Umurnya lima tahun. Suaranya dijawab minggu lalu, lewat kabel telepon.

Lalu ia melihat wajah orang-orang di ruangan itu, dan menutup mulutnya lagi.

Ia tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun.

• • •

Bu Ratna yang memberitahunya, esok paginya.

Ia duduk di lantai supaya sejajar, dan ia tidak langsung bicara.

"Sudah diputuskan pesannya akan dikirim."

Jabrik menunggu.

"Dan sudah diputuskan bahwa yang menentukan isinya kamu."

• • •

"Kenapa saya? Saya sepuluh tahun."

Bu Ratna membuka mulut.

Lalu ia menutupnya, lalu ia mencoba lagi, dan yang keluar terdengar seperti orang yang tidak menyiapkan kalimatnya.

"Kami sudah coba semua cara. Dua minggu. Tidak ada yang berhasil."

Ia menggosok matanya.

"Ingat, ini bukan hadiah ya, Ilham."

Itu saja. Ia tidak menjelaskan lebih jauh, dan Jabrik baru mengerti maksudnya bertahun-tahun kemudian.

• • •

Malam itu ia menelepon rumah.

Sinyalnya jelek. Suara Papuq datang terlambat setengah detik, seperti suara Amaq dari Malaysia.

"Papuq. Aku tidak tahu harus nulis apa."

Hening. Lalu hening tambahan karena sambungan.

"Kalau sudah dikirim, tidak bisa ditarik," kata Papuq akhirnya.

"Iya."

"Jadi kirim yang tidak akan kamu sesali."

"Yang mana itu?"

"Yang benar," kata Papuq. "Yang benar tidak pernah disesali."

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Banyak hal baru belum ada aturannya. Perjanjian antarnegara dibuat berdasarkan keadaan yang sudah pernah terjadi. Kalau muncul keadaan yang benar-benar baru, sering tidak ada aturan yang cocok, dan orang harus memutuskan tanpa panduan.
Untuk dipikirkan: Kalau di kelasmu ada keputusan penting yang harus diambil untuk semua orang, menurutmu siapa yang paling berhak memutuskan? Kenapa?
• • •

Bab 20 — Apa yang Benar tentang Manusia

Papuq bilang kirim yang benar. Ilham harus mencari tahu apa itu.

• • •

Yang menulisnya bukan Jabrik.

Itu yang tidak pernah dimengerti orang belakangan, waktu semua ini sudah jadi cerita.

Yang menulis adalah sebuah tim. Enam orang. Ada ahli hukum, ada dua ilmuwan, ada seseorang dari kementerian luar negeri yang tidak pernah tersenyum.

Dan ada Pak Bahri, ahli bahasa, yang paling tua di ruangan itu dan paling sering membuat semua orang kesal.

Setiap kali muncul kalimat baru, ia mengangkat tangan dan bertanya hal yang sama.

"Kata itu artinya apa?"

"Ya artinya itu, Pak."

"Artinya itu buat kita. Buat yang di sana?"

Dan rapatnya berhenti lagi selama dua puluh menit.

Mereka menyusun empat naskah dalam empat hari.

Tugas Jabrik cuma satu: membacakannya kepada Kira.

• • •

Naskah pertama terdengar seperti pidato Tujuh Belasan.

Kami manusia. Kami hidup berdampingan dengan damai. Kami menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.

Jabrik membacanya sampai selesai di ruang berperisai. Kira tidak menyela.

"Gimana?"

"Aku tidak mengerti pertanyaanmu."

"Maksudku bagus tidak."

"Aku tidak tahu apa artinya bagus."

Jabrik menatap naskah itu.

"Ya sudah. Begini. Itu benar tidak?"

Hening.

"Kamu yang tahu, bukan aku."

• • •

Dan di situ Jabrik sadar ia sebenarnya tahu.

Ia sudah tahu sejak kalimat ketiga. Cuma tidak berani mengatakannya kepada enam orang dewasa yang sudah bekerja empat hari.

Ia keluar dan mengatakannya.

"Pak. Ini tidak benar."

"Bagian mana?"

"Yang damai itu."

Ruangan jadi sepi.

"Maksud kamu?"

"Kita tidak damai, Pak. Di berita ada perang. Di kampung saya ada orang berantem soal batas kebun sampai tidak tegur sapa tiga tahun."

• • •

Naskah kedua isinya angka semua. Berapa banyak manusia. Berapa besar bumi. Berapa lama kami ada.

Kira mendengarkannya sampai selesai.

"Ini benar."

"Bagus dong."

"Iya. Ini benar."

Jabrik menunggu.

"Tapi ini tidak menjelaskan apa-apa tentang kalian."

"Kok tidak? Itu kan tentang manusia semua."

"Itu tentang berapa banyak kalian. Bukan tentang kalian."

• • •

Naskah ketiga dan keempat lebih baik. Jabrik menolak keduanya, karena alasan yang sama.

Dan ia butuh dua hari untuk bisa menjelaskan alasan itu dengan kalimat yang benar.

Waktu akhirnya bisa, ia mengatakannya dengan agak keras, karena ia sudah lelah.

"Semuanya cuma yang bagus-bagus."

"Memangnya kenapa?"

"Kalau saya kirim surat ke orang, terus isinya cuma yang bagus-bagus, itu namanya sombong."

Orang dari kementerian luar negeri itu membuka mulut untuk membantah.

Lalu ia menutupnya lagi.

• • •

"Kira. Gimana caranya bilang tentang manusia?"

"Aku tidak bisa membantu."

"Kenapa?"

"Karena yang aku tahu tentang manusia cuma kamu, adikmu, dan kakekmu."

Jabrik terdiam.

"Dan suara ibumu memanggil sarapan. Dan orang-orang yang berdebat di gedung ini selama dua minggu."

• • •

Amaq menelepon pada hari ketiga.

Bukan Jabrik yang menelepon. Amaq yang menelepon, dari Malaysia, jam sepuluh malam, dari nomor yang tidak dikenal ponsel pinjaman itu.

"Ilham?"

"Iya, Amaq."

Lalu tidak ada apa-apa selama beberapa detik, sebagian karena sambungan, sebagian karena tidak ada yang tahu harus bilang apa.

• • •

"Sudah makan?"

"Sudah."

"Makan apa?"

"Ayam."

"Bagus."

Hening lagi.

Jabrik memandangi lampu-lampu jalan dari jendela dan menunggu bapaknya bicara, dan bapaknya jelas sedang menunggu hal yang sama.

• • •

"Amaq tahu dari mana?"

"Dari Facebook. Kawan Amaq yang kirim."

"Oh."

"Ada fotomu."

"Fotonya jelek."

"Iya," kata Amaq. "Rambutmu disisir."

Jabrik tertawa sedikit. Sambungannya membawa tawa itu ke Malaysia setengah detik kemudian, dan ia mendengar bapaknya ikut tertawa setengah detik setelah itu lagi.

• • •

"Ilham."

"Iya."

"Amaq tidak ngerti soal bintang."

"Tidak apa-apa."

"Amaq cuma pasang besi."

"Iya, Amaq."

Hening.

"Tapi gedung yang Amaq pasang besinya tahun pertama dulu," kata Amaq. "Amaq lewat kemarin. Sudah jadi."

"Bagus?"

"Tinggi sekali. Amaq tidak pernah masuk."

"Kenapa tidak masuk?"

"Ya tidak boleh." Amaq tertawa pendek. "Amaq cuma yang pasang besinya."

• • •

Jabrik memindahkan ponsel ke telinga yang satunya.

"Amaq tidak kesal?"

"Kesal kenapa?"

"Bikin gedung terus tidak boleh masuk."

Bapaknya diam agak lama, dan Jabrik tidak tahu apakah itu karena sambungan atau karena memang lama.

"Besinya di dalam," kata Amaq akhirnya. "Tidak kelihatan. Tapi tanpa besinya, gedungnya tidak berdiri."

"Terus?"

"Ya sudah. Itu saja."

• • •

Ia tidak bilang apa-apa yang bijak. Ia tidak memberi nasihat tentang pesan, atau tentang alam semesta, atau tentang apa yang harus ditulis.

Sebelum menutup telepon ia cuma bilang, "Jangan lupa mandi," yang membuat Jabrik ingin tertawa dan menangis sekaligus.

Sesudah itu ia duduk di tepi kasur cukup lama.

• • •

Malam itu Mas Danu menunjukkan sesuatu kepadanya di laptop.

"Kamu tahu tidak, ini bukan yang pertama."

"Apanya?"

"Manusia sudah pernah kirim surat ke luar sana. Lama sekali sebelum kamu lahir."

• • •

Namanya Voyager. Dua wahana, diluncurkan tahun 1977.

Di badannya dipasang piringan emas berisi salam dalam puluhan bahasa, suara musik, suara ombak, suara orang tertawa, dan gambar-gambar bumi.

Yang memilih isinya sebuah tim, dipimpin seorang ilmuwan bernama Carl Sagan.

"Mereka juga bingung mau masukkan apa," kata Mas Danu. "Mereka berdebat berbulan-bulan."

"Terus?"

"Terus mereka kirim. Dan sekarang sudah jauh di ruang antarbintang, dan tidak bisa diubah lagi selamanya."

• • •

Jabrik memandangi foto piringan emas itu lama sekali.

"Mas."

"Hm."

"Mereka masukkan yang jelek juga tidak?"

Mas Danu berpikir sebentar.

"Sebagian orang waktu itu bilang harus. Tapi yang akhirnya dimasukkan kebanyakan yang bagus."

"Kenapa?"

"Mungkin karena mereka takut."

Jabrik tidak menjawab.

Tapi ia tidak tidur sampai jam dua pagi.

• • •

Ia menelepon Bu Nafisah.

"Bu. Manusia itu apa?"

"Pertanyaan itu terlalu besar."

"Saya harus jawab, Bu."

Bu Nafisah diam sebentar di ujung sana.

"Kalau begitu jangan dijawab besar-besar," katanya. "Kamu bukan sedang menulis buku pelajaran. Kamu sedang menulis surat."

"Surat ke siapa?"

"Ke orang yang belum pernah ketemu kamu. Kalau begitu, kamu tulis apa?"

"Nama saya. Terus saya tinggal di mana."

"Terus?"

"Terus siapa saya."

• • •

Ia menelepon Papuq.

"Menurut Papuq manusia itu gimana?"

Papuq lama tidak menjawab, dan sambungannya membuat jedanya terasa lebih lama lagi.

"Kita ini kadang baik sekali," katanya. "Waktu gempa dulu, orang yang rumahnya habis membantu orang yang rumahnya masih ada. Saya lihat sendiri."

"Terus?"

"Dan kita ini kadang bodoh sekali."

"Bodoh gimana?"

"Kamu sudah lihat isi jurang di jalan ke mata air."

• • •

Malam itu ia tidak tidur.

Kamarnya di Serpong ber-AC dan tidak ada suara jangkrik sama sekali. Dari jendelanya kelihatan lampu-lampu jalan, dan di atas lampu-lampu itu langit yang kosong.

Ia menghitung bintang dari jendela dan dapat sembilan.

Sembilan.

Di rumah ia berhenti menghitung di empat ratus.

• • •

Ia memikirkan tumpukan plastik di dasar jurang. Ia memikirkan pertanyaan Kira yang tidak pernah ia jawab: di mana "jauh"?

Ia memikirkan tiang pompa air yang kosong, dan panel yang ia ambil.

Ia memikirkan Venus, yang panasnya melelehkan timah. Ia memikirkan Mars, yang udaranya sudah habis.

Ia memikirkan garis biru tipis di jendela pesawat.

Dan ia memikirkan kalimat Lela di halaman, di bawah langit yang masih bisa dilihat.

Berarti di sini enak, ya.

• • •

Pagi-pagi ia menelepon rumah lagi.

"Lela masih tidur," kata Inaq.

"Bangunin."

"Ilham—"

"Sebentar saja, Inaq. Penting."

Suara Lela datang dengan ngantuk dan agak marah.

"Apa."

"Lela. Kalau ada orang tidak kenal tanya kita orang apa, kamu jawab apa?"

"Orang Aikbatu."

"Bukan. Manusia. Manusia itu gimana?"

Hening di ujung sana.

"Suka lupa," kata Lela. "Kayak Kira."

Lalu ia menutup teleponnya.

• • •

Jabrik duduk di lantai kamar yang dingin itu sampai jam enam.

Lalu ia membuka buku tulisnya di halaman kosong. Buku tulis yang sama, bekas pelajaran IPA, yang sudah dipindai oleh empat negara.

Dan ia mulai menulis pelan sekali.

• • •
Untuk dipikirkan: Ilham bertanya kepada tiga orang dan mendapat tiga jawaban berbeda. Kalau ada yang bertanya kepadamu, manusia itu bagaimana, kamu jawab apa?
• • •

Bab 21 — Dua Bagian

Sekarang ia harus menyusunnya.

• • •

Naskah kelima ditulis oleh tim yang sama, dalam dua hari, dan kali ini Jabrik ikut duduk di meja.

Ia tidak menulis kalimatnya. Tulisan tangannya jelek dan ejaannya berantakan, dan ia tahu itu.

Yang ia lakukan cuma satu hal, berkali-kali, sampai orang-orang di meja itu mulai lelah mendengarnya.

Itu benar tidak?

• • •

Dua bagian. Urutannya diputuskan di meja itu.

Bagian pertama: tempat ini seperti apa.

Ada air. Ada udara. Ada matahari yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Ada tanah yang bisa ditanami. Ada makhluk hidup, banyak sekali, dari yang sangat kecil sampai yang sangat besar.

Dan ada kami.

Bagian kedua: kami ini siapa.

Bagian kedua jauh lebih panjang, dan jauh lebih sulit, dan ditulis ulang empat kali.

• • •

"Kenapa yang tempat duluan?" tanya Jabrik.

"Karena itu yang paling gampang dijelaskan," kata Pak Bahri. "Kamu jelaskan dulu di mana kamu berada. Baru kamu jelaskan siapa kamu."

Jabrik memikirkannya sebentar, lalu mengangguk.

Ia menyukai Pak Bahri, walaupun semua orang lain di meja itu kelihatan ingin melemparnya keluar jendela.

Sebab Pak Bahri satu-satunya orang dewasa di gedung itu yang bertanya persis seperti Lela.

Itu apa? Kenapa? Terus kenapa?

Tidak ada yang membantah. Hari itu sebelas orang membaca susunan tersebut: ilmuwan, pejabat, dua penerjemah. Semuanya setuju urutannya masuk akal.

Setiap orang di gedung itu akan menyusunnya dengan urutan yang sama.

• • •

Bagian kedua berisi hal-hal yang masuk karena Jabrik tidak mau berhenti menanyakan pertanyaan yang sama.

Bahwa kami bisa sangat baik. Bahwa orang yang rumahnya habis membantu orang yang rumahnya masih ada.

Bahwa kami bisa sangat bodoh.

Bahwa kami membuang barang ke jurang di jalan menuju mata air kami sendiri, dan kami lewat setiap hari, dan kami berhenti melihatnya.

Bahwa kami merusak satu-satunya tempat yang kami punya, dan kami tahu, dan kami belum berhenti.

• • •

Bagian itu hampir tidak jadi masuk.

"Ini terlalu keras," kata orang dari kementerian.

"Tapi benar."

"Benar tidak selalu harus dikirim, Dik."

"Dulu yang piringan emas itu juga tidak dikirim," kata Jabrik. "Yang jeleknya. Mas Danu bilang mereka takut."

Ruangan jadi sepi lagi. Itu sudah yang ketiga kali dalam seminggu, dan Jabrik mulai terbiasa.

"Terus?"

"Terus sekarang kita kirim yang kedua kali. Kalau yang kedua juga cuma yang bagus-bagus, berarti kita memang begitu."

• • •

Dr. Okonkwo berkata sesuatu yang pendek dari sudut ruangan.

"Dia bilang apa, Bu?"

Bu Ratna menerjemahkannya.

"Dia bilang: 'anak itu baru saja memenangkan perdebatan yang kami kalah pada tahun tujuh puluhan'."

• • •

Mereka membacanya selama dua hari, dan mereka memotongnya.

"Terlalu panjang," kata Mas Tio. "Tenaganya tidak cukup."

"Berapa yang harus dibuang?"

"Kira-kira seperempat."

Jabrik membuang seperempat. Ia memilih sendiri bagian mana, dan itu memakan waktu satu malam penuh, dan ia tidak menangis walaupun ingin.

• • •

Lalu mereka memotong lagi, dan yang kedua ini bukan karena tenaga.

Jabrik menulis nama-nama di bagian akhir. Nama Inaq. Nama Papuq. Nama Lela.

"Ini tidak bisa," kata seseorang dari Jakarta.

"Kenapa?"

"Karena kita tidak boleh mengirimkan nama orang tanpa izin mereka. Apalagi anak kecil."

"Lela adik saya."

"Justru karena itu."

• • •

Ia berdebat selama dua puluh menit dan kalah.

Yang membuatnya paling kesal bukan kalahnya. Yang membuatnya kesal, setelah dijelaskan tiga kali ia malah mulai mengerti kenapa mereka benar.

"Terus bagian mana yang saya boleh tentukan?" tanyanya, agak keras.

Ruangan itu jadi sepi.

"Isinya," kata Bu Ratna akhirnya. "Panjangnya kami. Bentuknya kami. Waktunya kami. Isinya kamu."

"Itu saja?"

"Itu yang paling besar, Ilham."

• • •

Tapi ada satu hal yang ia pertahankan, dan ia menang.

Bagian tentang jurang. Tentang barang yang dibuang. Tentang merusak satu-satunya tempat yang kami punya.

"Ini tidak usah?" tanya orang dari Jakarta.

"Harus."

"Ini membuat kita kelihatan buruk."

"Memang buruk."

Tidak ada yang membantahnya, dan bagian itu tetap ada sampai akhir.

• • •

Dan di kalimat terakhir ia menulis satu hal yang tidak diminta siapa pun, dan tidak ada yang punya alasan untuk menolaknya.

Benda yang kalian kirim sekarang namanya Kira.

Namanya bukan dari kalian. Namanya dari saya.

Artinya menebak yang sudah dipikirkan.

• • •

"Kenapa itu dimasukkan?" tanya Bu Ratna.

Jabrik mengangkat bahu.

"Supaya mereka tahu dia bukan cuma barang."

Bu Ratna membuka mulut untuk bertanya lagi.

Lalu ia melihat wajah anak itu dan memutuskan tidak.

• • •

Malam terakhir, ia membacakannya kepada Kira di ruang berperisai.

Seluruhnya. Dua bagian. Pelan-pelan.

Kira tidak menyela satu kali pun.

Waktu selesai, hening cukup lama.

"Jabrik."

"Iya."

"Bagian keduanya panjang sekali."

"Sudah dipotong, lho. Seperempat."

"Oh."

"Masih kepanjangan?"

Hening lagi.

"Tidak," kata Kira akhirnya. "Tidak terlalu panjang."

• • •
Untuk dipikirkan: Ilham menulis tentang tempatnya dulu, baru tentang manusianya. Kalau kamu menulis surat kepada orang yang belum kenal kamu, kamu mulai dari mana?
• • •

Bab 22 — Empat Menit

Tinggal menekan.

• • •

Mereka melakukannya jam empat pagi.

Ruang berperisai itu penuh. Tiga puluh satu orang, delapan negara. Di dinding, layar-layar menunjukkan garis yang bergerak pelan. Setiap alat merekam.

"Kenapa direkam semua, Bu? Kan nanti kelihatan sendiri."

"Karena kita belum tahu apa yang penting," kata Bu Ratna. "Kadang yang penting baru ketahuan bertahun-tahun kemudian. Jadi semuanya disimpan."

• • •

Kira ada di tengah, di atas dudukan putih, dengan kabel tebal tersambung ke dinding.

Di sudut ruangan, disandarkan ke tembok, ada panel surya tua dari pompa air Desa Aikbatu.

Mas Tio bilang itu tidak perlu dibawa.

Jabrik tetap membawanya.

• • •

"Sudah siap," kata Mas Tio.

Semua orang menoleh ke arah anak itu.

Jabrik berjongkok di samping Kira.

"Kira."

"Iya."

"Kamu takut?"

"Aku tidak tahu apakah ini rasa takut."

Jabrik meletakkan telapak tangannya di logam yang hangat itu.

"Aku juga."

Ia menarik napas.

"Kirim."

• • •

Cahaya biru di dalam retakan itu berubah.

Mula-mula menguat. Terang sekali, sampai wajah tiga puluh satu orang di ruangan itu ikut biru.

Lalu ia berdenyut cepat. Sangat cepat.

Tidak ada suara sama sekali. Itu yang paling aneh. Tiga puluh satu orang berdiri menonton hal paling penting dalam hidup mereka, dan yang terdengar cuma dengung pendingin ruangan.

• • •

Mas Tio menghitung dengan suara pelan.

"Satu menit."

Garis di layar naik dan datar.

"Dua menit."

Masih datar.

"Tiga menit."

Jabrik memperhatikan sesuatu.

Cahayanya tidak seterang tadi.

• • •

"Mas."

"Sebentar."

"Mas, kok redup?"

"Memang begitu," kata Mas Tio tanpa menoleh. Matanya di layar. "Tenaganya kepakai."

"Tapi—"

"Empat menit."

Dan cahaya itu mati.

• • •

Hening yang sangat panjang.

Lalu Mas Tio berkata, "Selesai," dan ruangan itu meledak.

Orang berpelukan. Ada yang menangis. Seorang ilmuwan Jerman duduk di lantai dan menutup wajahnya. Dr. Okonkwo bersandar ke dinding dan tidak bergerak selama satu menit penuh.

Di lantai atas, orang-orang mulai menelepon negaranya masing-masing.

• • •

Jabrik tidak ikut.

Ia berjongkok di sana, memandangi retakan yang sekarang gelap.

Ia yakin cahayanya sudah mulai redup di menit ketiga. Bukan di menit keempat.

Ia menoleh ke arah Mas Tio, yang sedang tertawa sambil dipeluk orang.

Lalu ia menoleh ke arah layar-layar di dinding, yang masih menunjukkan garis-garis, yang masih merekam, yang akan disimpan.

Besok saja, pikirnya. Datanya kan ada.

• • •

Besoknya semua orang sibuk.

Lusanya ia pulang ke Lombok.

Dan berkas itu tersimpan di suatu tempat di Serpong, di antara ribuan berkas lain dari malam itu, dan tidak ada yang membukanya selama enam tahun.

• • •

Yang Nyata di Bab Ini

  • Ilmuwan merekam semuanya, bukan cuma yang mereka cari. Sering kali hal yang paling penting baru disadari bertahun-tahun kemudian, waktu orang membuka kembali rekaman lama dengan pertanyaan yang berbeda.
Untuk dipikirkan: Ilham memperhatikan sesuatu yang aneh, lalu menundanya karena semua orang sedang senang. Pernahkah kamu menunda bertanya karena merasa waktunya tidak pas?
• • •

Bab 23 — Tanda Tangan

Pesannya sudah berangkat. Sekarang giliran Ilham yang pergi.

• • •

Kira tidak mati.

Ia masih bicara. Suaranya lebih pelan, dan kadang berhenti di tengah kalimat, tapi ia masih ada.

Yang habis adalah bagian yang memancarkan.

"Aku tidak bisa mengirim apa-apa lagi. Selamanya."

"Tidak apa-apa," kata Jabrik.

"Kamu tidak menyesal?"

Ia memikirkannya dengan jujur sebelum menjawab.

"Belum."

• • •

Ada surat yang harus ditandatangani sebelum ia pulang.

Isinya panjang, hurufnya kecil, dan Jabrik mengerti mungkin sepertiganya.

Isinya tentang siapa yang menemukan, siapa yang menyerahkan, dan siapa yang bertanggung jawab mulai hari itu.

"Kenapa saya yang tanda tangan? Saya bukan pemiliknya."

"Karena kamu yang menemukan," kata orang dari Jakarta. "Dan karena secara resmi kamu yang bertanggung jawab sampai hari ini."

• • •

Inaq tanda tangan di bawahnya, dengan tulisan yang hati-hati sekali, karena ia tidak sering menandatangani apa pun.

Jabrik menandatanganinya di atas nama lengkapnya.

Ilham.

Nama yang lima bulan lalu hampir tidak pernah ia pakai, dan yang sekarang dipakai semua orang.

• • •

Ia turun ke ruang berperisai untuk terakhir kalinya.

Mereka memberinya sepuluh menit.

"Kira."

"Jabrik."

Ia berhenti.

"Kamu masih manggil aku begitu."

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena itu namamu waktu aku belajar bicara."

• • •

"Aku pulang besok."

"Aku tahu."

"Kamu nanti ngobrol sama orang lain."

"Mungkin."

"Kalau mereka tanya sesuatu, kamu jawab ya. Jangan diam."

"Aku akan mencoba."

Jabrik menelan ludah.

"Suaramu tetap suaraku?"

Hening.

"Suaraku tetap suaramu."

• • •

"Kira."

"Iya."

"Coba bilang sesuatu."

"Sesuatu."

Jabrik tertawa, satu kali, dan suaranya pecah di tengah.

"Bukan itu maksudku."

"Aku tahu."

• • •

"Kira. Coba bilang namamu."

"Kira."

"Lagi."

"Kira."

"Lagi."

"Kira."

Ia mendengarkan suaranya sendiri mengucapkan nama yang ia buat sendiri, di ruangan berdinding logam, seribu kilometer dari kamarnya.

"Sudah," katanya. "Sudah cukup."

• • •

Waktunya habis. Ada yang mengetuk pintu dua kali.

Jabrik berdiri.

"Kira."

"Iya."

"Kalau ada yang tanya siapa yang ngajarin kamu ngomong."

Ia berhenti.

"Jangan bilang aku. Bilang ada dua orang."

Hening.

"Ada dua orang," ulang Kira.

"Iya."

Dan Jabrik keluar tanpa menoleh, karena ia tahu kalau ia menoleh ia tidak akan bisa jalan.

• • •

Ia tidak menangis di bandara.

Ia tidak menangis di pesawat, walaupun dari jendela ia melihat Lombok muncul lagi, dan Rinjani, dan lembah itu, dan tempat yang seharusnya Aikbatu tapi terlalu kecil untuk dilihat.

Ia menangis sorenya, di belakang rumah, di tempat yang ia kira tidak ada orang.

Lela menemukannya. Adiknya tidak bilang apa-apa, cuma duduk di sebelahnya sambil memeluk bantal sampai kakaknya selesai.

• • •
Untuk dipikirkan: Kira tetap memanggilnya Jabrik, padahal semua orang lain sudah memanggilnya Ilham. Kamu punya nama panggilan yang cuma dipakai orang tertentu? Rasanya bagaimana waktu mereka memakainya?
• • •

Bab 24 — Kelereng

Bab terakhir.

• • •

Malam itu ia mengeluarkan kaleng biskuit dari kolong dipan.

Isinya kelereng. Semuanya. Yang biru, yang hijau, yang belang, dan empat yang bening.

Ia membawanya ke kamar Lela dan meletakkannya di lantai.

"Buat kamu."

Lela bangun dan memandangi kaleng itu.

"Semuanya?"

"Semuanya."

• • •

Lela membuka kaleng itu dan mengeluarkan isinya di lantai, satu per satu, dengan sangat teliti.

Ia memisahkan yang biru ke satu sisi.

Lalu ia mengambil empat yang bening, memasukkannya kembali ke kaleng, menutupnya, dan mendorongnya ke arah kakaknya.

"Kenapa?"

"Kan belum."

"Belum apa?"

• • •

Lela tidak menjawab.

Ia memasukkan kelereng biru ke kantongnya, memeluk bantalnya, dan naik ke tempat tidur.

Jabrik duduk di lantai dengan kaleng biskuit di tangannya, berisi empat kelereng bening, dan tidak mengerti.

Ia menyimpannya lagi di kolong dipan.

• • •

Listrik mati jam sembilan seperti biasa.

Ia menyeret tikarnya ke halaman dan berbaring telentang, seperti ribuan malam sebelumnya.

Matanya terbiasa pelan-pelan. Beberapa titik. Puluhan. Ratusan.

Lalu jalur putih tipis itu, memanjang dari utara ke selatan.

Di Serpong ia dapat sembilan bintang dari jendela kamarnya.

Di sini ia berhenti menghitung di empat ratus.

• • •

Ia memikirkan pesannya, yang sekarang sedang berjalan.

Kata Dr. Okonkwo, pesan itu tidak berhenti. Ia terus, terus, melewati Mars, melewati Jupiter, melewati tepi jalan desa yang bukan jalan desa, keluar ke gelap.

Empat puluh tahun sampai ke sana. Empat puluh tahun lagi kalau ada yang menjawab.

Ia menghitung di kepalanya dan mendapat angka sembilan puluh.

• • •

"Papuq."

Kakeknya duduk di tangga di belakangnya.

"Kalau ada yang jawab, aku sudah tua sekali."

"Iya."

"Mungkin aku sudah tidak ada."

Papuq tidak membantahnya. Itu yang Jabrik hargai.

"Terus buat apa?"

• • •

Papuq memikirkannya lama sekali.

"Kamu tahu batu di ujung halaman itu?"

"Yang buat nunggu Rowot?"

"Itu bukan saya yang taruh. Itu sudah ada waktu saya kecil."

Jabrik menoleh.

"Siapa yang taruh?"

"Tidak ada yang tahu."

Papuq menepuk lutut cucunya satu kali.

"Tapi setiap bulan Mei, ada orang yang duduk di situ."

• • •

Ia berbaring lagi dan memandangi langit.

Di suatu tempat di atas sana, pesannya sedang berjalan, dan tidak bisa ditarik kembali.

Di suatu tempat di Serpong, ada bola logam penyok yang berbicara dengan suaranya.

Dan di halaman ini ada batu besar yang ditaruh oleh orang yang namanya sudah hilang, untuk orang-orang yang belum lahir waktu ia menaruhnya.

"Papuq."

"Hm."

"Aku mau bikin sesuatu di sini."

"Bikin apa?"

Jabrik belum tahu.

"Nanti," katanya. "Kalau sudah aku pikirkan cukup lama."

• • •

Bertahun-tahun kemudian, di bukit di atas kampung itu, ada lapangan beton kecil dan sebuah gudang berkunci.

Lampu jalan berhenti seratus meter sebelum sampai ke sana.

Seorang perempuan mengajari anak-anak cara menunggu.

• • •

SELESAI BUKU PERTAMA

• • •

Catatan tentang Tempat dan Nama

Buku ini bercerita tentang pentingnya jujur. Jadi rasanya pantas kalau di bagian akhir dijelaskan mana yang sungguhan dan mana yang dikarang.

Yang sungguhan ada:

Gunung Rinjani dan lembah Sembalun di Pulau Lombok. Rowot — nama orang Sasak untuk gugus bintang Pleiades — dan perayaan Ngandang Rowot. Papan warige. Gempa Lombok tahun 2018.

Observatorium Bosscha di Lembang. Observatorium Nasional Timau di Nusa Tenggara Timur. Kawasan penelitian di Serpong. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Deep Space Network milik NASA, dengan tiga stasiunnya di Amerika, Spanyol, dan Australia.

Wahana Voyager, piringan emasnya, dan Carl Sagan yang memimpin tim pemilih isinya pada tahun 1977. Wahana layar cahaya IKAROS dan LightSail 2. Venus yang panasnya melelehkan timah, dan Mars yang udaranya sudah menipis.

Dan seluruh ilmu di bagian Yang Nyata di Bab Ini. Semuanya bisa kamu periksa sendiri.

Yang dikarang:

Desa Aikbatu tidak ada. Nama desa itu dibuat dari dua kata Sasak — aik yang berarti air dan batu — dan sengaja dipilih supaya terdengar wajar tanpa menunjuk desa mana pun yang sungguhan.

Semua tokoh dalam buku ini juga dikarang: Jabrik, Lela, Inaq, Papuq, Bu Nafisah, Bu Ratna, Dr. Grace Okonkwo, Mas Tio, Mas Danu, Pak Bahri, Amaq Ripin, dan semua yang lain. Tidak ada satu pun yang menggambarkan orang sungguhan, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Yang paling penting:

BRIN dan NASA benar-benar ada. Tetapi peristiwa dalam buku ini tidak pernah terjadi. Tidak ada benda yang jatuh di Sembalun. Tidak ada pesan yang dikirim. Kedua lembaga itu tidak terlibat dalam pembuatan buku ini dan tidak bertanggung jawab atas isinya.

Semuanya ini cerita. Tapi langitnya sungguhan, dan kamu bisa melihatnya malam ini.

• • •

Tentang Eramuse House

Eramuse House membuat bahan belajar gratis untuk anak dan guru Indonesia. Semuanya bisa dipakai tanpa internet, tanpa iklan, dan tanpa memungut data pribadi anak.

AyoMath — permainan latihan matematika SD kelas 1–6, sesuai Kurikulum Merdeka.

Jabrik Sains — teman mengajar IPAS untuk guru SD. Empat puluh tiga pelajaran, seratus lima percobaan dengan bahan yang ada di rumah, dan bisa dibawakan tanpa proyektor.

Kami juga mendukung IOA (ioa.or.id) dalam pelatihan kepemimpinan bagi guru-guru di Indonesia.

Semuanya di ayomath.com

• • •

Untuk Bapak dan Ibu Guru

Buku ini boleh dipakai di kelas tanpa perlu meminta izin.

Halaman Yang Nyata di Bab Ini dan Untuk dipikirkan boleh diperbanyak untuk murid. Bagian Untuk dipikirkan sengaja dibuat tanpa jawaban — supaya yang muncul di kelas adalah perdebatan, bukan hafalan.

Kalau ada yang keliru di buku ini, atau ada bagian yang sulit dipahami murid, tolong beri tahu kami.

eramusehouse@gmail.com